KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Fintek Karya Nusantara (LinkAja) mencatatkan pertumbuhan transaksi QRIS sekitar 10% sepanjang kuartal III-2026 dibandingkan periode sebelumnya. Sebelumnya Bank Indonesia memperluas kebijakan tiering Merchant Discount Rate (MDR) QRIS 0% sejak awal bulan ini.
Chief Executive Officer LinkAja, Yogi Rizkian Bahar, mengatakan perusahaan menyambut baik kebijakan tersebut sebagai langkah positif mendorong ekosistem pembayaran digital yang lebih sehat dan inklusif, khususnya bagi UMKM.
Baca Juga: Bank Asing Ramai-ramai Perbesar Bisnis di Indonesia “Sejak mulai diberlakukan, kami mulai melihat adanya penyesuaian pola transaksi yang sejalan dengan perubahan struktur tarif MDR,” Ujarnya kepada Kontan, Jumat (9/10). Ia menambahkan, kebijakan ini mempunyai potensi untuk mempengaruhi komposisi pendapatan dari transaksi QRIS, khususnya melalui pergeseran kontribusi dari transaksi dengan nilai yang lebih rendah menuju transaksi dengan nilai yang lebih besar. Meski demikian, Yogi menilai perubahan yang terjadi tersebut menjadi bagian dari dinamika industri yang wajar dan sekaligus menjadi momentum untuk mengoptimalkan kualitas transaksi serta memperluas pemanfaatan QRIS di berbagai segmen merchant. Dalam jangka panjang, ia optimistis terhadap kebijakan ini akan berdampak positif bagi ekosistem pembayaran digital, dan juga ia berharap struktur biaya bisa semakin sesuai dengan karakteristik merchant dapat mendorong adopsi QRIS menjangkau lebih banyak pelaku usaha. Sejalan dengan itu, untuk mengoptimalkan kinerja, Ia menjelaskan LinkAja akan terus bertransformasi menjadi financial services enabler dengan pendekatan B2B2C. Dia bilang, strategi perusahaan tidak hanya mencakup fokus pada transaksi di level pengguna akhir tetapi juga penguatan aspek B2B lewat kolaborasi dengan merchant, institusi, ekosistem BUMN, dan mitra strategis lainnya.
Baca Juga: Bank Siapkan Strategi Bidik Transaksi di MotoGP Mandalika 2026 “Di saat yang sama, kinerja QRIS akan terus dioptimalkan melalui peningkatan volume dan frekuensi transaksi, optimalisasi portofolio merchant yang telah bekerja sama, serta pengembangan berbagai program yang mendorong penggunaan QRIS dalam kebutuhan sehari-hari masyarakat,” jelasnya. Selain dari kinerja, Ia mengatakan akan terus memantau perubahan pola transaksi dan kontribusi pendapatan berdasarkan karakteristik transaksi, sehingga strategi bisnis yang dijalankan tetap adaptif terhadap perkembangan pasar maupun implementasi kebijakan tiering MDR. Oleh karena itu, ke depan Ia memproyeksikan transaksi QRIS tumbuh hingga sekitar 20% sampai akhir tahun, hal ini seiring dengan semakin luasnya pemanfaatan QRIS sebagai metode pembayaran serta implementasi kebijakan tiering MDR yang semakin mendukung merchant, khususnya UMKM. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News