KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fenomena
lipstick effect yang ramai dibicarakan di tengah tekanan ekonomi dinilai mencerminkan cara masyarakat beradaptasi dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan preferensi personal.
Chief Executive Officer LinkAja, Yogi Rizkian Bahar, mengatakan kalau masyarakat kini jadi lebih selektif dalam mengelola pengeluaran meski tetap ada kebutuhan untuk menjaga kualitas hidup dan pengalaman konsumsi melalui produk maupun layanan yang relatif terjangkau. “Kami melihat fenomena
lipstick effect sebagai refleksi dari bagaimana masyarakat beradaptasi dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan preferensi personal di tengah tekanan ekonomi,” ujar kepada Kontan, Kamis (21/5/2026).
Baca Juga: Suku Bunga Rendah dan Pasar yang Volatil di Kuartal I Tekan Imbal Hasil Dapen BCA Sementara itu, dari segi perilaku transaksi, masyarakat kini dipandang lebih adaptif dan value-driven. Dengan kata lain, konsumen dinilai semakin mempertimbangkan aspek kemudahan, efisiensi, dan relevansi dalam setiap transaksi yang dilakukan. Oleh karena itu, LinkAja memandang penting untuk tetap relevan dengan kebutuhan pengguna, baik pada segmen
business to consumer (B2C) maupun business to business (B2B). Langkah tersebut ditempuh dengan menghadirkan ekosistem pembayaran digital yang mudah diakses untuk berbagai kebutuhan transaksi sehari-hari, mulai dari layanan esensial hingga kebutuhan gaya hidup dan aktivitas digital lainnya. Fenomena lipstick effect, kemudian. dipandang Yogi sebagai momentum untuk memperkuat akses masyarakat terhadap layanan transaksi digital yang relevan dengan kebutuhan mereka dibanding sekadar mendorong peningkatan pembiayaan saja. Sebagai platform pembayaran digital, fokus perusahaan saat ini lebih diarahkan pada penguatan ekosistem pembayaran digital, peningkatan pengalaman pengguna, dan perluasan kolaborasi dengan berbagai mitra strategis di segmen B2C maupun B2B. Meski begitu, Yogi mengaku pihaknya belum melihat adanya pergeseran konsumsi yang spesifik maupun signifikan pada pengguna layanan transaksi digital. Di sisi lain, ia justru melihat adanya kecenderungan pengguna untuk lebih cermat dan terukur dalam bertransaksi, termasuk dalam memilih metode pembayaran yang praktis, efisien, dan terintegrasi dengan kebutuhan sehari-hari. Sementara pada segmen B2B, kebutuhan pelaku usaha terhadap solusi pembayaran digital yang efisien dan fleksibel juga dinilai masih tumbuh, terutama untuk mendukung operasional bisnis dan menjaga kualitas layanan kepada pelanggan.
Baca Juga: BI Rate Naik, Bank Mulai Andalkan Fee-Based Income untuk Jaga Profit Ke depannya, LinkAja melihat kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha terhadap transaksi yang seamless, efisien, dan terintegrasi akan terus berkembang sehingga penguatan konektivitas layanan dan ekosistem menjadi salah satu fokus utama perusahaan. Adapun dalam situasi ekonomi yang masih menantang, perusahaan memandang pentingnya aspek kehati-hatian, perlindungan konsumen, dan keberlanjutan ekosistem digital dalam menjalankan bisnis. Lebih lanjut, Yogi mengungkapkan bahwa perusahaan akan memastikan seluruh layanan dan kolaborasi yang tersedia di platform berjalan sesuai regulasi dan prinsip tata kelola yang baik. Selain itu, pihaknya juga berupaya terus mendorong edukasi kepada pengguna terkait penggunaan layanan keuangan digital secara bijak dan bertanggung jawab. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News