Listrik naik, proyek PLTP Muara Laboh dikebut



JAKARTA. PT Supreme Energy menargetkan satu dari tiga proyek pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang tengah digarap mulai konstruksi tahun 2016. Proyek yang berlokasi di Muara Laboh Sumatra Barat itu berkapasitas 80 megawatt (MW) Adapun dua lagi yakni, PLTP Rajabasa berkapasitas 220 MW, PLTP Rantau Dedap berkapasitas 86 MW masih tahap eksplorasi.

Ismoyo Argo, Senior Manager Business Relations Supreme Energy, mengatakan, saat ini perusahaan tersebut tengah berupaya agar bisa menuntaskan proses financial close di proyek PLTP Muara Laboh yang terletak di Solok Selatan.

"Ini setelah sebelumnya mendapatkan kenaikan harga jual listrik dari PLN menjadi US$ 0,13 per kWh," ungkap dia kepada KONTAN, Jumat (30/12).


Sebelumnya harga jual listrik PLTP Muara Laboh hanya sekitar US$ 0,088 per kWh. Untuk memastikan konstruksi dilakukan perusahaan sudah melakukan well testing atau uji sumur eksplorasi ML-A1 dan ML-B1 sebagai bagian pengeboran 4 sumur-6 sumur eksplorasi untuk membutkikan adanya sumber panas bumi.

"Saat ini sedang persiapan pendanaan proyek. Diharapkan konstruksi pembangkit dimulai tahun 2017," ujarnya kepada KONTAN, Jumat (30/12).

Dan untuk membangun 1 Megawatt (MW) di PLTP sekitar US$ 2 juta. PLTP Muara Laboh tahap I diharapkan pembangunan bisa selesai dan beroperasi tahun 2019. Setelah tahap I selesai perusahaan akan melakukan eksplorasi unit II yang dilakukan pada tahun 2021.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie