KONTAN.CO.ID - MAKASSAR — Kemudahan transaksi digital dan derasnya promosi belanja daring menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa dalam mengelola keuangan. Tanpa kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, uang yang seharusnya digunakan untuk menunjang pendidikan justru berpotensi habis untuk pengeluaran yang tidak direncanakan. Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan edukasi literasi keuangan di Universitas Hasanuddin (Unhas) yang menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan sektor keuangan dan legislatif, mulai dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan hingga DPR RI. Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa mengatakan kemampuan akademik saja tidak cukup untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi masa depan. Mereka juga perlu memiliki kecakapan dalam mengatur keuangan agar mampu mengambil keputusan secara bijak ketika memasuki dunia kerja maupun saat mulai memperoleh penghasilan sendiri.
“Mahasiswa Unhas hari ini tidak lagi belajar hanya dari buku, tetapi bisa mendapatkan pengetahuan langsung dari lembaga-lembaga yang memang menjaga sistem keuangan Indonesia. Karena itu, kita harus benar-benar mencari informasi dari sumber yang tepat, memahami bagaimana produk keuangan bekerja, serta mengetahui risiko yang mungkin muncul agar tidak mudah mengambil keputusan hanya karena mengikuti tren atau melihat orang lain mendapatkan keuntungan,” ujar Prof. JJ di Baruga A.P. Pettarani Unhas, Selasa (20/10/2026). Menurutnya, ketahanan finansial atau financial resilience harus dibangun sejak seseorang masih berada di bangku kuliah, bukan setelah memiliki penghasilan besar atau mencapai tingkat kesejahteraan tertentu. Kebiasaan mengatur uang, menyisihkan tabungan, dan mempertimbangkan kebutuhan sebelum melakukan pembelian perlu dilatih secara konsisten. “Ketahanan finansial harus dibangun sejak mahasiswa berada di bangku kuliah, bukan nanti setelah kita memiliki banyak uang. Justru dari sekarang kita harus mulai belajar mengendalikan pengeluaran, membedakan kebutuhan dengan keinginan, serta membiasakan diri mengambil keputusan yang tepat dalam menggunakan uang. Kalau kebiasaan ini dibangun sejak dini, kita akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan keuangan pada masa mendatang,” tegasnya.
Tiga Pesan Utama Rektor Prof. JJ juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah tergiur dengan tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan besar tanpa memahami mekanisme dan risiko yang menyertainya. Ancaman penipuan digital serta judi online menjadi alasan lain mengapa generasi muda perlu meningkatkan kewaspadaan dalam memanfaatkan layanan keuangan. Ia menyampaikan tiga pesan utama kepada mahasiswa, yakni tidak menggunakan produk keuangan yang belum dipahami, mengenali risiko sebelum mengejar keuntungan, serta tidak menunggu memiliki penghasilan besar untuk mulai mengelola uang secara bertanggung jawab. “Jangan menggunakan produk finansial yang tidak Anda mengerti, apa pun bentuk produknya, pelajari terlebih dahulu bagaimana cara kerjanya dan apa risikonya. Kemudian, kenali risiko sebelum mengejar keuntungan dan jangan hanya melihat hasil yang dijanjikan. Kita juga tidak perlu menunggu sampai memiliki penghasilan besar untuk mulai mengelola keuangan dengan baik, karena kebiasaan itulah yang akan menentukan bagaimana kita menggunakan uang ketika penghasilan kita semakin meningkat, "pesan nya. Prof. JJ turut menyinggung keberadaan Bank Unhas yang diharapkan dapat mendukung kebutuhan layanan keuangan sekaligus memperkuat pembelajaran finansial di lingkungan kampus. Menurutnya, kepercayaan merupakan fondasi penting dalam sistem keuangan sehingga mahasiswa perlu memahami mekanisme tabungan, perbankan, dan investasi sebelum menentukan pilihan. Ia menilai perguruan tinggi perlu mengambil bagian dalam membangun ekosistem literasi keuangan yang tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi turut memberikan dukungan nyata bagi sivitas akademika, termasuk mahasiswa pada jenjang pendidikan profesi yang dalam kondisi tertentu membutuhkan akses terhadap layanan keuangan.
Soroti Kemudahan Transaksi Sementara itu, anggota Badan Supervisi LPS, Andi Timo Pangerang, menyoroti perubahan perilaku masyarakat akibat semakin mudahnya transaksi keuangan melalui QRIS, mobile banking, dan berbagai platform pembayaran digital. Kemudahan tersebut perlu diimbangi kemampuan mengendalikan pengeluaran agar masyarakat tidak kehilangan kendali atas uang yang dimiliki. “Teknologi sudah luar biasa membantu kita melakukan transaksi, tetapi ada satu hal yang harus diperhatikan, semakin mudah transaksi dilakukan, semakin penting pula kita berpikir sebelum mengambil keputusan. Ketika pembayaran hanya membutuhkan beberapa sentuhan di layar telepon genggam, kita terkadang tidak menyadari berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan, apalagi jika terus tergoda promosi, belanjan impulsif, dan layanan bayar nanti atau paylater. Karena itu, kenali produk keuangan, pahami risikonya, kemudian pilih dengan sadar sesuai kebutuhan dan kemampuan kita,” paparnya. Ia mengingatkan tiga persoalan yang dekat dengan kehidupan generasi muda, yakni kebiasaan belanja impulsif, pemilihan instrumen investasi tanpa pemahaman memadai, serta penipuan digital. Mahasiswa diminta tidak mengikuti pilihan investasi orang lain hanya karena melihat teman memperoleh keuntungan dari emas, saham, atau instrumen tertentu. Apalagi, keputusan investasi harus didasarkan pada pemahaman terhadap produk dan kemampuan menghadapi risiko, bukan semata-mata mengikuti tren atau takut tertinggal dari orang lain. “Kalau kita mengatakan akan menabung nanti saja ketika masih ada uang tersisa, sering kali persoalannya adalah uang itu tidak pernah tersisa karena sudah digunakan untuk berbagai keperluan yang sebenarnya belum tentu penting. Jadi, tabungan dan investasi sebaiknya direncanakan sejak awal, bukan hanya menunggu sisa uang pada akhir bulan. Kita harus mengendalikan uang yang kita miliki, bukan justru membiarkan uang mengendalikan keputusan dan kebiasaan kita,” ujarnya. Beli Saham Andi Timo Pangerang juga memperkenalkan tiga prinsip pengelolaan keuangan, yakni control, protect, dan grow. Prinsip control berarti mengendalikan penggunaan uang, protect berkaitan dengan perlindungan dana dan pemahaman mengenai penjaminan simpanan, sedangkan grow merupakan upaya mengembangkan dana melalui investasi yang sesuai dengan tujuan keuangan dan kemampuan menanggung risiko. Ia meminta mahasiswa mempertimbangkan empat hal sebelum memilih instrumen investasi, yaitu tujuan, waktu, risiko, dan prospek. Keempat aspek tersebut perlu diperhitungkan agar investasi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan masing-masing, sebab produk yang cocok bagi seseorang belum tentu sesuai bagi orang lain. “Kalau ingin mengetahui investasi apa yang sesuai untuk diri kita, ingat empat hal, yaitu tujuan, waktu, risiko, dan prospek. Kita harus mengetahui untuk apa uang itu digunakan, kapan uang tersebut dibutuhkan, seberapa besar risiko yang sanggup kita tanggung, dan bagaimana prospek instrumen yang dipilih. Jangan hanya mengejar keuntungan atau mengikuti apa yang sedang ramai dibicarakan, karena keputusan investasi harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing", pesan nya.
Bantuan KIP Kuliah Dari unsur legislatif, anggota Komisi XI DPR RI, Andi Yuliani Paris menilai pentingnya dukungan pendidikan melalui program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah), sekaligus perlunya meningkatkan pemahaman mahasiswa dalam menggunakan bantuan pendidikan secara tepat. “Akses pendidikan tinggi perlu terus diperluas agar semakin banyak generasi muda memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan,” ucapnya. Ia juga menceritakan kegiatan literasi keuangan bersama OJK di sejumlah kampus di daerah pemilihannya di Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Bone dan Wajo, serta rencana menjangkau wilayah lainnya. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendekatkan pemahaman mengenai layanan keuangan kepada mahasiswa.
Hati-Hati Belanja Promosi Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution, mengingatkan mahasiswa agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan belanja, terutama ketika berhadapan dengan promosi digital yang dapat mendorong seseorang membeli barang di luar kebutuhan. Ia mencontohkan promosi tanggal kembar seperti 11 November yang menawarkan potongan harga hingga 33 persen. Menurutnya, diskon sering kali membuat seseorang merasa harus segera membeli barang, padahal keputusan tersebut dapat memengaruhi kondisi keuangan dalam jangka panjang. “Keputusan yang dilakukan dalam satu menit bisa berdampak terhadap keuangan kita pada masa yang akan datang, entah bulan depan, tiga bulan lagi, atau bahkan tahun depan. Jadi, ketika berbicara mengenai uang, persoalannya bukan hanya berapa banyak uang yang kita punya, tetapi bagaimana kita mengelolanya. Jangan sampai karena melihat diskon atau promosi yang menarik, kita langsung membeli sesuatu tanpa memikirkan apakah barang itu benar-benar dibutuhkan dan apakah pengeluaran tersebut sesuai dengan kemampuan keuangan kita,” ujarnya. Ia menekankan, kebiasaan mengelola uang perlu dilatih sejak mahasiswa, termasuk dalam menggunakan bantuan pendidikan maupun uang bulanan dari orang tua. Kemampuan mengatur dana dalam jumlah terbatas menjadi bekal penting sebelum seseorang dipercaya mengelola penghasilan yang lebih besar. “Kalau kita gagal mengelola uang KIP yang Rp6,6 juta atau uang bulanan dari orang tua yang mungkin Rp2 juta sampai Rp3 juta, percayalah kita akan kesulitan ketika harus mengelola uang yang lebih besar. Karena itu, saya ingin adik-adik menatap masa depan dengan optimistis, tetapi tetap waspada. Belajarlah mengatur pengeluaran, menentukan prioritas, dan menyisihkan uang untuk kebutuhan yang lebih penting, sebab masa depan akan lebih baik kalau kita mulai bijak mengelola uang dari sekarang,” katanya.
Literasi Keuangan Ia turut memaparkan bahwa akses masyarakat terhadap layanan keuangan telah mencapai 93,6 persen, sedangkan tingkat literasi keuangan berada pada angka 69,6 persen. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan berkembang lebih cepat dibandingkan pemahaman masyarakat mengenai produk, manfaat, dan risiko yang menyertainya. “Penggunaan akses layanan jasa keuangan sudah lebih cepat daripada pemahamannya. Hampir semua mahasiswa sekarang menggunakan layanan perbankan digital dan platform belanja daring, tetapi kemudahan itu juga diikuti penawaran yang terus datang langsung ke telepon genggam kita, bahkan saat sedang beristirahat. Ketika melihat promosi dan diskon, barang yang awalnya tidak ingin dibeli akhirnya dibeli. Inilah yang disebut impulsive buying atau pembelian impulsif, sehingga kita perlu membiasakan diri berpikir sebelum berbelanja dan memastikan pengeluaran tidak mengganggu kebutuhan yang lebih utama,” jelasnya.
Selain mengingatkan bahaya belanja impulsif, Ia meminta mahasiswa menerapkan prinsip 2L, yakni legal dan logis, sebelum memilih produk investasi. Legal berarti memastikan lembaga penyedia produk terdaftar dan diawasi oleh otoritas yang berwenang, sedangkan logis berarti menilai kewajaran keuntungan yang ditawarkan. “Setiap tawaran produk keuangan harus diperiksa dengan prinsip 2L, legal dan logis. Pertama, cek apakah lembaganya legal, terdaftar, dan diawasi regulator. Kedua, periksa apakah keuntungan yang ditawarkan masuk akal. Kalau ada tawaran imbal hasil yang terlalu tinggi dalam waktu singkat, jangan langsung percaya atau terburu-buru mentransfer uang, tetapi pelajari terlebih dahulu produknya, periksa pihak yang menawarkan, dan pastikan kita memahami risiko sebelum mengambil keputusan,” tegasnya. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keamanan transaksi digital dengan tidak membagikan PIN maupun kode OTP kepada orang lain. Menurutnya, literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memilih produk dan mengatur pengeluaran, tetapi juga mencakup perlindungan uang serta data pribadi dari berbagai modus penipuan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News