KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026 mencatat, tingkat literasi sektor Lembaga Keuangan Mikro (LKM) sebesar 12,44%, sedangkan inklusinya 3,01%. Tingkat literasinya terbilang sudah cukup masif, tetapi inklusinya masih ketinggalan. Terlihat dari gap-nya yang masih jauh atau lebar. Mengenai hal itu, Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Badan Kredit Desa (BKD) Ponorogo menilai ada sejumlah tantangan yang dirasakan LKM dalam menyeimbangkan tingkat inklusi dengan literasi. Direktur Utama LKM BKD Ponorogo Mego menyebut tantangan inklusi untuk LKM salah satunya, yakni mayoritas LKM tidak memiliki modal dan infrastruktur yang cukup untuk memberikan produk dan layangan keuangan yang dibutuhkan masyarakat. "Selain itu, produk LKM biasanya berbiaya tinggi, karena lebih berisiko dan sulit dalam melakukan efisiensi sumber daya manusia. Sekarang, kondisinya industri LKM itu banyak sekali, tetapi omzetnya kecil-kecil, sehingga sangat tidak efisien," ungkapnya kepada Kontan, Minggu (16/8/2026).
Literasi LKM Capai 12,44%, tapi Inklusi Cuma 3,01%, Ini Tantangan yang Dihadapi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026 mencatat, tingkat literasi sektor Lembaga Keuangan Mikro (LKM) sebesar 12,44%, sedangkan inklusinya 3,01%. Tingkat literasinya terbilang sudah cukup masif, tetapi inklusinya masih ketinggalan. Terlihat dari gap-nya yang masih jauh atau lebar. Mengenai hal itu, Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Badan Kredit Desa (BKD) Ponorogo menilai ada sejumlah tantangan yang dirasakan LKM dalam menyeimbangkan tingkat inklusi dengan literasi. Direktur Utama LKM BKD Ponorogo Mego menyebut tantangan inklusi untuk LKM salah satunya, yakni mayoritas LKM tidak memiliki modal dan infrastruktur yang cukup untuk memberikan produk dan layangan keuangan yang dibutuhkan masyarakat. "Selain itu, produk LKM biasanya berbiaya tinggi, karena lebih berisiko dan sulit dalam melakukan efisiensi sumber daya manusia. Sekarang, kondisinya industri LKM itu banyak sekali, tetapi omzetnya kecil-kecil, sehingga sangat tidak efisien," ungkapnya kepada Kontan, Minggu (16/8/2026).
TAG: