Lokal Menadah, Arus Dana Asing Tak Lagi Tentukan Arah Harga Big Banks?



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah arus keluar dana asing (foreign outflow) yang masih deras, harga saham bank-bank berkapitalisasi pasar jumbo alias big banks mampu mempertahankan posisi harganya. Di balik itu, ada investor lokal yang mengakumulasi saham big banks di harga murah.

Di akhir perdagangan Jumat (14/8/2026), tak ada big banks yang berhasil mencatatkan penguatan harga dalam sepekan. Pelemahan terdalam dicetak PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), yakni sebesar 1,65% menjadi Rp 4.170. Dalam periode yang sama, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 773,12 miliar.

Menyusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 0,39% menjadi Rp 6.350. Yang menarik, sebenarnya investor asing masih tercatat net buy Rp 221,48 miliar. Pun PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 0,32% ke harga Rp 3.120 sementara investor asing mencetak net buy Rp 306,45 miliar. Terakhir, harga PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) stagnan di Rp 3.630 dengan catatan net buy asing sebesar Rp 72,09 miliar.


Baca Juga: BI Resmi Meluncurkan Kartu Kredit Indonesia Bertepatan dengan HUT ke-81 RI

Dari catatan tersebut, nampak kontradiksi arus dana asing dan arah harga saham di sejumlah emiten big banks. Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya menyebut, itu menunjukkan bahwa daya serap investor domestik terhadap tekanan jual asing semakin kuat. Meski belum tentu mencerminkan akumulasi lokal yang masif dan permanen, menurutnya kondisi ini menunjukkan bahwa arus dana asing bukan lagi satu-satunya faktor yang menentukan pergerakan harga sejumlah big banks.

Untuk BBCA, Andrey bilang minat investor domestik kemungkinan didorong oleh kombinasi fundamental yang solid, kualitas aset yang terjaga, CASA yang tinggi, serta valuasi yang semakin menarik setelah koreksi harga. Pun, BBCA masih dipandang sebagai salah satu saham perbankan berkualitas tinggi, sehingga ketika harga terkoreksi akibat foreign selling, investor lokal cenderung memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan akumulasi. 

“Tren ini masih dapat berlanjut selama tekanan jual asing tidak meningkat signifikan dan kinerja fundamental tetap solid,” jelas Andrey kepada Kontan, Minggu (16/8/2026).

Nah untuk big banks lainnya, Andrey bilang intensitasnya kemungkinan berbeda. Untuk BBRI, BMRI, dan BBNI, menurutnya daya tarik investor domestik lebih banyak berasal dari kombinasi valuasi yang relatif murah, dividend yield yang menarik, serta potensi pemulihan pertumbuhan laba. Dus, ketika risk appetite domestik membaik, saham-saham tersebut juga berpotensi mendapatkan aliran dana lokal.

Andrey melihat investor domestik saat ini cukup kuat untuk menjadi shock absorber terhadap foreign selling yang moderat, bahkan memungkinkan harga saham tetap naik ketika asing masih mencatatkan net sell. Hanya saja, karakter domestic buying berbeda untuk masing-masing bank.

Pada BBCA, pembelian cenderung didorong oleh quality dan earnings visibility, sementara pada BBRI, BMRI, dan BBNI, investor domestik relatif lebih sensitif terhadap valuasi dan dividend yield. 

Meski demikian, untuk menciptakan rally yang lebih besar dan berkelanjutan pada big banks, Andrey menyebut tetap diperlukan kembalinya foreign inflow. “Likuiditas domestik dapat membentuk price floor, sementara foreign inflow berpotensi menjadi katalis untuk rerating berikutnya,” jelasnya.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta sepakat bahwa likuiditas domestik semakin banyak menyerap pasokan asing, sehingga berpotensi menciptakan fase akumulasi pada saham-saham bank besar. Namun, menurutnya re-rating yang berkelanjutan masih membutuhkan konfirmasi dari pertumbuhan laba, pelonggaran moneter, serta masuknya kembali dana asing.

Secara umum Nafan melihat tren akumulasi domestik pada big banks sebagai fenomena yang cukup konstruktif bagi pasar modal Indonesia. Penguatan harga ketika asing masih melakukan net sell, menurutnya, menunjukkan bahwa kapasitas dan kemampuan beli investor domestik semakin penting dalam menjaga penurunan saham-saham blue chip.

Namun, ia masih belum melihatnya sebagai pengganti likuiditas asing secara permanen. “Domestic investors dapat menjadi floor, tetapi foreign investors masih berpotensi menjadi accelerator,” ujar Nafan.

Untuk strategi, Nafan menempatkan BBCA sebagai top pick untuk quality accumulation, BMRI sebagai growth/value play, BBNI sebagai value re-rating play, dan BBRI sebagai recovery/high-beta play.

Dalam jangka menengah, menurutnya BBCA dan BMRI menurut saya paling berpotensi menjadi sasaran utama akumulasi investor lokal, sementara potensi kenaikan berikutnya akan semakin kuat apabila domestic accumulation mulai disertai foreign net buy dan perbaikan fundamental sektor perbankan.

Sementara itu, Andrey melihat BMRI dan BBRI menawarkan valuasi serta dividend yield yang lebih menarik, sehingga berpotensi mendapatkan perhatian lebih besar ketika investor domestik mencari value.

Namun, dalam jangka pendek, ia bilang BBCA berpotensi menjadi salah satu saham yang paling konsisten mendapat akumulasi domestik ketika terjadi foreign selling, sedangkan BMRI dan BBRI dapat menawarkan upside yang lebih besar apabila momentum pertumbuhan laba semakin kuat. 

“Secara keseluruhan, menguatnya peran investor domestik merupakan perkembangan positif, tetapi ruang kenaikan big banks ke depan tetap akan ditentukan oleh kombinasi earnings, valuation, rupiah, suku bunga, likuiditas, dan arah foreign flows,” jelas Andrey. 

Baca Juga: Saham Sejumlah Emiten Bank Masuk Daftar HSC, Begini Kata OJK

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News