KONTAN.CO.ID - LONDON. Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) menciptakan risiko baru bagi stabilitas keuangan. Peringatan ini disampikan Kepala Bank for International Settlements (BIS) Pablo Hernandez de Cos. Ia menyebut, bisnis AI dengan belanja infrastruktur terkait yang sudah mencapai skala cukup besar untuk memengaruhi kondisi ekonomi global. Bagi bank sentral, AI tidak mengubah mandat kebijakan moneter, namun membuat perekonomian lebih sulit ditafsirkan karena memengaruhi permintaan, penawaran, dan pasar keuangan secara bersamaan.
BIS memperkirakan lima perusahaan teknologi terbesar dunia akan menginvestasikan lebih dari US$ 1 triliun untuk AI antara tahun 2025 dan 2026. Sementara perkiraan industri menunjukkan investasi AI global dapat tumbuh dari sekitar US$ 500 miliar saat ini menjadi hingga US$ 4 triliun pada tahun 2030. "Potensi AI itu nyata," ujar Hernandez de Cos dalam konferensi yang diselenggarakan oleh bank sentral India seperti dikutip
Reuters, Kamis (10/9/2026). Ia mengingatkan bahwa dampak jangka panjangnya akan bergantung pada pilihan kebijakan, investasi dalam keterampilan dan infrastruktur, serta seberapa luas manfaatnya dibagikan.
Baca Juga: Bursa China dan Hong Kong Tertekan Kamis (10/9), Harga Minyak Jadi Sorotan Hernandez de Cos mengatakan lonjakan AI semakin banyak dibiayai melalui utang dan kredit swasta alih-alih laba perusahaan. Nah, hal ini perlu dicermati secara saksama karena sebagian besar pendanaan tersebut masih bersifat tidak transparan dan saling terkait. AI juga mengubah arus perdagangan global. Perekonomian yang memiliki keterkaitan erat dengan rantai pasok teknologi—termasuk Korea Selatan, Singapura, Malaysia, dan Taiwan—telah diuntungkan oleh harga ekspor cip dan peralatan AI yang lebih kuat. Hernandez de Cos menyoroti bukti bahwa AI generatif dapat meningkatkan produktivitas secara signifikan. Berbagai studi menemukan adanya peningkatan kinerja antara 10% hingga 65% pada tugas-tugas tertentu, khususnya dalam bidang pemrograman (coding), konsultasi, dan penulisan profesional. Pertanyaan yang lebih luas adalah seberapa besar peningkatan tersebut akan berdampak pada pertumbuhan produktivitas di seluruh sektor ekonomi. Estimasi saat ini menunjukkan bahwa AI dapat meningkatkan pertumbuhan produktivitas total faktor sebesar sekitar setengah poin persentase per tahun, bergantung pada kecepatan adopsi serta efektivitas realokasi tenaga kerja dan modal. Negara-negara maju diperkirakan akan merasakan manfaatnya lebih awal karena sektor jasa mereka yang lebih besar dan kesiapan yang lebih tinggi dalam menerapkan AI. Negara-negara berkembang menghadapi prospek yang lebih beragam, meskipun Hernandez de Cos menyebutkan bahwa India memiliki "peluang nyata" untuk memperkecil kesenjangan tersebut, berkat dukungan infrastruktur digital publiknya.
Baca Juga: China Borong Hampir 1 Juta Ton Kedelai AS Jelang Pertemuan Xi Jinping-Trump Hilangnya Lapangan Kerja
Meskipun AI dapat meningkatkan produktivitas pekerja, Hernandez de Cos bilang, teknologi ini juga dapat menggantikan tugas-tugas kognitif yang bersifat rutin. Sejauh ini, dampak hilangnya lapangan kerja masih terbatas, namun tanda-tanda mulai muncul di bidang layanan pelanggan, pemrograman, dan peran administratif, sehingga pelatihan ulang dan pengembangan keterampilan baru menjadi semakin penting.
Hernandez de Cos juga menyebut, valuasi yang tinggi, konsentrasi pasar, dan struktur pembiayaan yang tidak transparan dapat menciptakan kerentanan jika laba perusahaan tidak memenuhi ekspektasi. "Saya tidak mengatakan bahwa inilah arah yang pasti akan dituju oleh lonjakan AI ini," ujarnya. "Namun, skala dan kecepatan lonjakan investasi saat ini, serta besarnya imbal hasil komersial yang diharapkan, memang menuntut adanya kehati-hatian," katanya. Ia menarik perbandingan dengan lonjakan ekonomi di masa lalu, seperti era ekspansi jalur kereta api dan fenomena dotcom.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Pakistan Peringatkan Iran soal Houthi