Lonjakan Harga BBM Picu Minat Sewa Mobil Listrik di AS, Dampak Konflik Timur Tengah



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tanda-tanda pergeseran menuju kendaraan listrik mulai terlihat di industri rental mobil Amerika Serikat, seiring meningkatnya kekhawatiran konsumen terhadap lonjakan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah.

Permintaan sewa mobil listrik (electric vehicle/EV) dilaporkan meningkat signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Di Hertz, yang juga menyewakan kendaraan untuk pengemudi Uber dan Lyft, pemesanan EV pada Maret naik hampir 25% dibandingkan Februari. Peningkatan paling kuat terjadi di wilayah Pantai Barat AS, yang dikenal memiliki harga bahan bakar lebih tinggi.

Sementara itu, platform rental peer-to-peer Turo—yang memiliki model bisnis mirip Airbnb—mencatat kenaikan pemesanan EV sebesar 11% dalam tiga pekan terakhir Maret dibandingkan periode sebelumnya. Bahkan, pada 31 Maret, saat harga bensin AS menembus US$4 per galon untuk pertama kalinya sejak 2022, pemesanan EV di Turo melonjak 47% dibandingkan hari yang sama tahun lalu.


Baca Juga: Krisis Timur Tengah Tekan Kinerja LVMH, Pemulihan Bergantung Situasi Geopolitik

Dampak Gangguan Selat Hormuz

Lonjakan harga bahan bakar dipicu oleh gangguan distribusi energi global akibat konflik Iran. Ketegangan di Selat Hormuz—jalur penting yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia—telah mengganggu arus energi global.

Data dari U.S. Energy Information Administration menunjukkan harga rata-rata bensin di AS telah melonjak lebih dari sepertiga sejak perang dimulai pada 28 Februari, mencapai US$4,02 per galon.

Konsumen Mulai Beralih ke EV

Analis menilai lonjakan harga bahan bakar biasanya tidak langsung mengubah keputusan pembelian kendaraan. Namun, tekanan harga yang cukup tajam saat ini mulai mendorong konsumen mencari alternatif.

Di Eropa, pendaftaran kendaraan listrik di 15 negara melonjak lebih dari 50% pada Maret. Sementara di AS, dampaknya lebih terbatas. Penjualan EV baru justru turun 25% secara tahunan pada Maret, dipengaruhi berakhirnya insentif pajak sebesar US$7.500.

Meski demikian, pasar EV bekas menunjukkan tren sebaliknya. Penjualan meningkat tajam, dan konsumen rental mobil cenderung lebih fleksibel untuk beralih ke EV dalam jangka pendek demi menghemat biaya bahan bakar.

Baca Juga: Tesla Tambah 1.000 Pekerjaan di Jerman, Genjot Produksi Model Y

Platform Car Rental Gateway melaporkan peningkatan 16% dalam pemesanan kendaraan listrik dan hybrid sepanjang Maret. Jika harga bahan bakar tetap tinggi, perusahaan rental yang telah berinvestasi besar di kendaraan listrik berpotensi meraih keuntungan.

Harga EV Bekas Menguat

Peningkatan permintaan juga mulai mendorong kenaikan harga EV bekas. Platform lelang kendaraan ACV Auctions mencatat bahwa harga mobil listrik sebelumnya sempat melemah selama beberapa bulan, namun mulai stabil kembali sejak lonjakan harga minyak pada awal Maret.

Menurut John Coles, Wakil Presiden Data Science dan Analytics di ACV Auctions, tekanan harga bahan bakar telah memberikan “kehidupan kedua” bagi kendaraan listrik di pasar.

Tren ini menunjukkan bahwa dinamika geopolitik global, khususnya di sektor energi, kini mulai mempengaruhi perilaku konsumen di industri otomotif, terutama dalam percepatan adopsi kendaraan listrik di pasar sewa jangka pendek.