Lonjakan Harga Minyak Tekan SBN, Yield Naik dan Biaya Utang Berpotensi Membengkak



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Kenaikan harga minyak dunia yang dipicu ketidakpastian global mulai menekan pasar Surat Berharga Negara (SBN), tercermin dari lonjakan yield yang berlanjut hingga pertengahan Maret 2026. 

Kondisi ini tak hanya mencerminkan meningkatnya risiko pasar, tetapi juga berpotensi langsung menaikkan biaya utang pemerintah.

Data menunjukkan yield SBN tenor 10 tahun per 16 Maret 2026 telah mencapai 6,81%, naik tajam dari 6,11% pada akhir 2025. Bahkan, dalam sebulan terakhir, yield sudah meningkat sekitar 0,39 poin persentase. 


Kenaikan juga terjadi pada tenor menengah, dengan yield SBN 5 tahun naik ke 6,25% dari sebelumnya 5,5%.

Baca Juga: Harga Minyak Brent dan WTI Naik 4% Sepekan, Lonjakan Terbesar Sejak Juni

Kenaikan yield ini sejalan dengan meningkatnya risiko global, termasuk lonjakan harga energi akibat terganggunya distribusi minyak dunia. Situasi tersebut mendorong investor meminta imbal hasil lebih tinggi, sekaligus menekan harga obligasi.

Global Market Economist, Myrdal Gunarto, menilai dalam jangka pendek kondisi ini masih relatif aman bagi fiskal. "Masih acceptable, tapi hanya untuk dua bulan ke depan," ujarnya kemarin.

Ia menjelaskan, selama yield SBN 10 tahun masih di bawah asumsi APBN 2026 sebesar 6,9%, tekanan terhadap fiskal belum signifikan. Namun, risiko akan meningkat jika yield menembus level 8%.

Kenaikan harga minyak menjadi faktor kunci yang dapat memperburuk situasi. Jika gangguan pasokan global, seperti di Selat Hormuz, berlanjut, harga energi berpotensi melonjak dan memicu inflasi. Dampaknya, Bank Indonesia bisa terdorong menaikkan suku bunga acuan.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak, Lampaui Lagi US$ 100 Per Barel

Dalam skenario tersebut, yield SBN berpotensi ikut naik lebih tinggi. Kenaikan suku bunga dan inflasi akan memperbesar beban bunga utang pemerintah, sekaligus mempersempit ruang fiskal.

“Kalau beban bunga utang naik, ruang belanja jadi terbatas,” kata Myrdal.

Tak hanya itu, kenaikan yield juga berdampak langsung pada strategi pembiayaan. Investor akan meminta imbal hasil lebih tinggi pada penerbitan utang baru, sehingga biaya pembiayaan APBN ke depan menjadi lebih mahal.

Di pasar, investor saat ini cenderung melakukan aksi jual dan menunggu yield mencapai level yang lebih menarik, terutama di atas 7% untuk tenor 10 tahun.

Meski demikian, tekanan ini berpotensi mereda jika distribusi minyak global kembali normal. Myrdal memperkirakan jalur Selat Hormuz bisa pulih paling lambat akhir April 2026, yang dapat menurunkan harga minyak ke kisaran fundamental sekitar US$70 per barel.

Baca Juga: Harga Minyak Brent Menguat, Catat Kenaikan Mingguan di Tengah Ketegangan Iran-AS

Jika skenario ini terjadi, kenaikan yield SBN diperkirakan terbatas. Yield 10 tahun diproyeksikan maksimal di kisaran 7,1%, dengan tenor lain naik sekitar 30 basis poin.

Sebaliknya, jika gangguan berlangsung lebih lama, lonjakan harga minyak berisiko memicu inflasi lanjutan, termasuk dari penyesuaian harga BBM. Efek rambatan ini dapat mendorong kenaikan suku bunga dan memperdalam tekanan di pasar obligasi domestik.

Untuk meredam risiko tersebut, pemerintah disarankan menyiapkan strategi pembiayaan alternatif, mulai dari private placement, debt switching untuk memperpanjang tenor, hingga memanfaatkan pinjaman bilateral dan multilateral dengan biaya lebih rendah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News