KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketergantungan industri nikel nasional terhadap impor bijih nikel kian meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor bijih nikel dari Filipina ke Indonesia sepanjang 2025 melonjak menjadi 15,33 juta ton dengan nilai mencapai US$ 725,17 juta. Volume tersebut naik sekitar 5 juta ton dibandingkan realisasi impor pada 2024. Lonjakan impor ini terjadi di tengah rencana pemerintah untuk membatasi produksi nikel mulai 2026. Kalangan pelaku usaha menilai kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan dampak berantai terhadap industri pengolahan nikel di dalam negeri. Dewan Penasihat Pertambangan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Djoko Widajatno, menjelaskan salah satu pemicu meningkatnya impor adalah keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada tahun lalu. Padahal, kuota RKAB yang disiapkan mencapai sekitar 379 juta wet ton.
Lonjakan Impor Nikel dari Filipina, Industri RI Terancam Kekurangan Pasokan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketergantungan industri nikel nasional terhadap impor bijih nikel kian meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor bijih nikel dari Filipina ke Indonesia sepanjang 2025 melonjak menjadi 15,33 juta ton dengan nilai mencapai US$ 725,17 juta. Volume tersebut naik sekitar 5 juta ton dibandingkan realisasi impor pada 2024. Lonjakan impor ini terjadi di tengah rencana pemerintah untuk membatasi produksi nikel mulai 2026. Kalangan pelaku usaha menilai kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan dampak berantai terhadap industri pengolahan nikel di dalam negeri. Dewan Penasihat Pertambangan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Djoko Widajatno, menjelaskan salah satu pemicu meningkatnya impor adalah keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada tahun lalu. Padahal, kuota RKAB yang disiapkan mencapai sekitar 379 juta wet ton.
TAG: