Lonjakan Klaim Kesehatan Buka Peluang Bisnis Telemedicine Terintegrasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Medika Inovasi Nusantara melalui platform kesehatan digital (healthtech) DokterIN menawarkan solusi pengendalian biaya kesehatan bagi industri asuransi melalui pendekatan Connected Care 360°. 

Model layanan ini dirancang untuk menekan praktik overtreatment atau tindakan medis berlebihan yang dinilai menjadi salah satu pemicu melonjaknya klaim kesehatan dan inflasi medis di Indonesia.

Strategi tersebut diperkenalkan kepada para pemangku kepentingan, mulai dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), hingga pelaku industri asuransi dan rumah sakit.


Baca Juga: Bisnis Layanan Sunat Masih Prospektif, Captain Sunat Buka Peluang Kemitraan

Langkah ini diambil di tengah meningkatnya tekanan biaya kesehatan. Data Marsh and Mercer Benefits Health Trends 2025 memproyeksikan inflasi medis di Indonesia mencapai 17,8% pada 2026. 

Di sisi lain, sebanyak 85% perusahaan asuransi jiwa dan umum di Asia menilai pemborosan layanan kesehatan (overtreatment dan overuse care) sebagai salah satu tantangan terbesar industri.

Tekanan tersebut juga tercermin dari data AAJI yang mencatat pembayaran klaim kesehatan perorangan mencapai Rp16,59 triliun pada 2025 atau naik 6,7% secara tahunan. Sementara itu, klaim kesehatan kumpulan meningkat 13,2% menjadi Rp 10,16 triliun.

Direktur DokterIN Yurid'ka Azkaa mengatakan telemedicine kini tidak lagi sekadar menjadi kanal konsultasi daring, melainkan berperan sebagai smart gate keeper yang mengendalikan kualitas layanan, utilisasi, dan biaya kesehatan secara menyeluruh.

"Masa depan telemedicine bukan diukur dari banyaknya konsultasi, tetapi dari kemampuannya mengendalikan kualitas layanan, utilisasi, dan biaya kesehatan secara terintegrasi," ujar Yurid'ka dalam keterangan tertulis seperti dikutip, Rabu (15/7/2026).

Baca Juga: CSIS Membaca Peluang Bisnis Properti dari Negeri yang Menua

Melalui pendekatan Connected Care 360°, DokterIN mengintegrasikan layanan mulai dari edukasi dan pencegahan penyakit, smart assessment berbasis kecerdasan buatan (AI), telekonsultasi, rujukan ke fasilitas kesehatan, layanan apotek dan laboratorium, pemantauan pascaperawatan, hingga program kesehatan dan gaya hidup. 

Model ini bertujuan memastikan pasien memperoleh layanan sesuai kebutuhan klinis sehingga mengurangi tindakan medis yang tidak diperlukan.

Perseroan meyakini pendekatan tersebut dapat membantu perusahaan asuransi meningkatkan efisiensi biaya sekaligus memperkuat pengendalian mutu layanan kesehatan. 

Pengendalian overtreatment juga dinilai penting untuk menekan potensi fraud, pemborosan, dan penyalahgunaan layanan kesehatan yang selama ini menjadi tantangan industri.

Baca Juga: Pemulihan Trafik Udara Buka Peluang Bisnis Ground Handling Çelebi Aviation

Dalam hampir dua tahun beroperasi, DokterIN telah bekerja sama dengan lebih dari 15 perusahaan asuransi, mengoperasikan lima platform white label bagi mitra, serta membangun integrasi digital end-to-end dengan third party administrator (TPA) dan sistem internal perusahaan asuransi.

Perseroan menilai transformasi dari pendekatan yang berfokus pada pengobatan menjadi pengelolaan biaya kesehatan (managing healthcare cost) akan menjadi peluang bisnis baru bagi penyedia layanan kesehatan digital.

Selain membantu menekan lonjakan klaim, model tersebut juga diharapkan mendukung keberlanjutan industri asuransi kesehatan dengan memastikan setiap pasien memperoleh layanan yang tepat, aman, efisien, dan berbasis kebutuhan klinis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News