Lonjakan Minat Perawatan Kulit dan Anti Penuaan Dini Jadi Ladang Bisnis Baru



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan kulit, industri perawatan diri melihat peluang pertumbuhan yang semakin besar. Terutama di segmen produk berbasis sains dan pendekatan holistik.

Survei JakPat pada 2021 menunjukkan 76% perempuan Indonesia menganggap penuaan dini sebagai persoalan serius. Mencerminkan potensi pasar yang kuat bagi produk pencegahan aging dan perlindungan kulit jangka panjang.

Tren ini turut diperkuat oleh pandangan medis. Dokter dari Perdoski Jakarta, dr. M. Akbar Wedyadhana, menjelaskan bahwa stres oksidatif menjadi faktor penting dalam proses penuaan kulit karena dapat memicu penurunan kualitas kolagen hingga gangguan pembuluh darah.


"Bahan aktif seperti astaxanthin menarik perhatian industri karena mampu bekerja di tingkat sel berkat sifat lipofilik dan hidrofiliknya, sehingga dinilai efektif melindungi kulit dari paparan lingkungan," ujarnya, Jumat (13/2). 

Secara komersial, bahan antioksidan tersebut semakin dilirik produsen karena didukung data riset yang menunjukkan konsumsi sekitar 12 mg dapat memberikan efek antioksidan dan anti-inflamasi optimal. Dukungan bukti ilmiah ini menjadi nilai tambah bagi perusahaan dalam memposisikan produk sebagai solusi berbasis penelitian, bukan sekadar kosmetik.

Baca Juga: Promo Guncang 12.12 Tokopedia dan TikTok Shop Bawa Brand Lokal Kecantikan Mendunia

Di sisi lain, inovasi teknologi topikal juga menjadi arena persaingan baru. Sekretaris umum Perdoski Jakarta, dr. Litya Ayu Kanya Anindya menilai tren industri kini bergerak menuju produk yang tidak hanya memperbaiki tampilan kulit, tetapi juga mendukung regenerasi jaringan.

"Teknologi penghantaran bahan aktif modern dinilai mampu meningkatkan efektivitas formula, sekaligus menjadi diferensiasi penting dalam strategi pemasaran brand skincare," tegasnya, 

Bagi pelaku industri, momentum ini upaya memperkuat inovasi produk. Presiden Direktur PT Pertiwi Agung (Landson), Fera Damayanti, menegaskan, pendekatan menyeluruh menjadi strategi perusahaan dalam mengembangkan lini produk.

"Perawatan diri idealnya tidak hanya berfokus pada aspek luar, tetapi juga dari dalam tubuh agar manfaatnya lebih optimal," tegas Fera.  

Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri skincare Indonesia tengah bergerak dari sekadar tren kecantikan menuju sektor berbasis riset dan kesehatan. Potensi pertumbuhan yang didorong kombinasi edukasi medis, inovasi teknologi, serta perubahan perilaku konsumen.

 

Selanjutnya: Target 8% Prabowo Dinilai Realistis, Menkeu Purbaya: Bahkan Idealnya 10%

Menarik Dibaca: HP Android Bebas Iklan 2026: Rasakan Nyaman Tanpa Gangguan!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News