KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada Kamis (2/4/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,11% secara harian ke Rp 17.002 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah melemah 0,57% dari posisinya di level Rp 16.904 per dolar AS pada Kamis pekan lalu (26/3/2026). Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI) rupiah melemah 0,07% secara harian ke Rp 17.015 per dolar AS, Kamis (2/4/2026). Dalam sepekan, rupiah melemah 0,66%. Analis Mata Uang Ibrahim mengatakan, pergerakan rupiah dalam sepekan ini dipengaruhi efek sentimen perang di Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump mengancam AS akan “menghancurkan” pembangkit energi dan sumur minyak Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Hal ini menyusul penolakan Teheran terhadap proposal perdamaian AS sebagai “tidak realistis” dan serangan rudal baru-baru ini terhadap Israel.
Baca Juga: Eskalasi Timur Tengah Memanas, Rupiah Melemah ke Rp 17.002 per Dolar AS Sementara Iran menyatakan siap menghadapi invasi darat oleh AS, terutama setelah laporan akhir pekan lalu menunjukkan Washington mengerahkan ribuan pasukan ke Timur Tengah. Namun demikian, Gedung Putih mengklaim bahwa pembicaraan dengan Iran terus berlanjut dan berjalan dengan baik. “Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan didukung Iran menyerang Israel pada akhir pekan lalu. Kelompok Houthi dapat membuka front baru dalam perang, mengingat mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah,” ujar Ibrahim, Jumat (2/4/2026). Rupiah juga dipengaruhi sentimen melebarnya defisit APBN. Pemerintah memperkirakan defisit APBN melebar dari target seiring dengan pembengkakan belanja subsidi akibat kenaikan harga minyak dunia yang dipicu perang Timur Tengah. Setiap kenaikan harga minyak US$1 per barel akan menambah Rp 6 triliun terhadap defisit, yang sebelumnya ditargetkan Rp689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB. Kendati yakin tetap berada di bawah batas 3%, Defisit APBN bisa melebar ke 2,9% terhadap PDB, apabila harga minyak berada di level US$100 secara konsisten sepanjang tahun. Namun, pemerintah masih memiliki ruang fiskal. Salah satu alasannya karena harga minyak dunia pun masih berfluktuasi. Pemerintah menargetkan defisit APBN 2026 sebesar 2,68% terhadap PDB salah satunya dengan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) di level US$70 per barel.
Faktor Global Menyetir
Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa mengatakan, pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan akan dipengaruhi sejumlah faktor. Dari sisi global, pelaku pasar akan fokus pada arah kebijakan moneter The Fed, rilis data ekonomi AS seperti Nonfarm Payrolls (NFP) dan inflasi. Serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang dapat memengaruhi sentimen pasar dan arus modal. Selain itu, pergerakan harga komoditas terutama minyak juga menjadi faktor penting yang berdampak pada mata uang emerging markets.
Baca Juga: Tembus Rp 17.002 Per Dolar AS, Rupiah Ditutup Melemah 0,11% pada Kamis (2/4) Sementara itu, dari sisi domestik, penurunan inflasi Indonesia ke level 3,48% secara year on year (YoY) pada Maret 2026 memberikan sinyal meredanya tekanan harga, meskipun dampaknya terhadap penguatan rupiah relatif terbatas.
“Kebijakan Bank Indonesia (BI) melalui instrumen seperti SVBI dan SUVBI diharapkan dapat menjaga stabilitas dan likuiditas valas, namun dalam jangka pendek pergerakan rupiah masih akan lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika eksternal,” ujar Amru. Ibrahim memperkirakan rupiah dalam sepekan ke depan rupiah bergerak dikisaran Rp 16.980 – Rp 17.120 per dolar AS. Sementara Amru memproyeksikan rupiah dalam sepekan ke depan bergerak fluktuatif dengan kisaran Rp 16.950 – Rp17.100 per dolar AS. Pergerakan cenderung stabil dengan bias melemah terbatas, mengingat tekanan eksternal yang masih dominan, meskipun terdapat peluang penguatan jika sentimen global membaik. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News