KONTAN.CO.ID - SURABAYA. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank menjalin kolaborasi strategis dengan produsen
Fast Moving Consumer Goods (FMCG) PT Mega Global Food Industry (Kokola Group) guna memperkuat pertumbuhan ekspor dan meningkatkan ketahanan rantai pasok dalam menghadapi persaingan global. Salah satu bentuk konkret kolaborasi tersebut adalah PT Mega Global Food Industry memanfaatkan program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) dari LPEI. Program itu berperan penting dalam memberikan pembiayaan, baik di awal maupun di akhir proses ekspor.
Baca Juga: LPEI Targetkan Penyaluran Pembiayaan Tumbuh 10% pada 2026 Direktur Pelaksana Bisnis II LPEI Sulaeman, menjelaskan bahwa PKE merupakan program pemerintah yang dimandatkan kepada LPEI yang memiliki tujuan untuk mendorong industri strategis nasional, serta Usaha Kecil dan Menengah (UKM) berdaya saing di pasar global dan menciptakan
developmental impact. Dalam hal itu, dia biang PT Mega Global Food Industry merupakan salah satu pelaku usaha yang menerima manfaat PKE Trade Finance. "LPEI mendukung proses transaksi ekspor melalui fasilitas pembiayaan
pre dan
post shipment. Dengan demikian, eksportir dapat menjaga arus kas perusahaan dan memperoleh modal kerja untuk produksi barang,” ujar Sulaeman dalam media gathering di Surabaya, Jumat (17/4/2026). Sementara itu, Direktur PT Mega Global Food Industry Richard Cahyadi mengaku sangat terbantu dengan adanya sinergi Pemerintah Daerah dan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, khususnya melalui LPEI, ketika melakukan kegiatan ekspor. Melalui kolaborasi dengan LPEI, dia bilang perusahaan memperoleh dukungan strategis dalam beberapa aspek utama, antara lain penguatan struktur finansial, peningkatan daya saing biaya (cost leadership), stabilitas rantai pasok, dan akselerasi pertumbuhan ekspor.
Baca Juga: Fitch Revisi Outlook Bank Mandiri, BRI, BNI dan LPEI Jadi Negatif, Rating Tetap BBB Richard menerangkan program yang diberikan LPEI telah memberikan dukungan optimal dalam meningkatkan kapasitas dan kapabilitas perusahaan. Dia bilang dukungan tersebut juga memberikan posisi yang strategis bagi perusahaan untuk mewakili Indonesia dalam berperan mengisi rantai pasok industri makanan global. "Berkat dukungan tersebut, saat ini kami telah berhasil menembus pasar ekspor ke 55 negara,” kata Richard dalam kesempatan yang sama. Terkait program PKE dari LPEI, Richard menyebut hal itu berperan penting dalam memberikan pembiayaan, baik di awal maupun di akhir proses ekspor. Selain itu, adanya fasilitas penjaminan juga memberikan rasa aman bagi pihaknya melakukan ekspor. "Dengan dukungan tersebut, tim ekspor menjadi lebih percaya diri dan tidak ragu untuk memperluas pasar, serta menembus pasar ekspor global,” ucapnya.
Baca Juga: LPEI Fasilitasi Ekspor 15 Ton Produk UMKM ke Eropa Lebih lanjut, Richard menyebut saat ini, Kokola telah mengekspor produknya ke lebih dari 55 negara, dengan jangkauan pasar utama antara lain Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Filipina, serta bekerja sama dengan lebih dari 100 mitra supermarket di dunia. Sebagai informasi, hingga 2025, para eksportir telah memanfaatkan fasilitas PKE Trade Finance LPEI dengan total limit mencapai Rp 3,35 triliun. Adapun realisasi penyaluran sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp 7,68 triliun. Sektor makanan olahan menjadi portofolio terbesar dalam PKE Trade Finance, dengan porsi mencapai 39% atau sebanyak 31 debitur. Selain memberikan dukungan finansial bagi pelaku usaha, Sulaeman bilang PKE Trade Finance juga berperan dalam mendorong terciptanya dampak pembangunan.
Baca Juga: LPEI Tanggapi Audit KPK: Dana Rp 966 Miliar ke Petro Energy Disalahgunakan Sepanjang 2025, dia mengatakan penyaluran PKE Trade Finance telah berkontribusi terhadap penciptaan atau penghematan devisa sebesar Rp 21,12 triliun. Sulaeman menerangkan PKE Trade Finance saat ini dapat disalurkan kepada 18 sektor industri dan komoditas, antara lain produk karet, kopi, furnitur, alas kaki, makanan olahan, tekstil dan produk tekstil, perhiasan dan permata, teh dan rempah, produk kayu, kerajinan, produk elektronik, produk kimia, komponen otomotif, produk kulit, mesin dan peralatan listrik, besi dan baja, produk pertanian, serta produk kertas. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News