KONTAN.CO.ID - LONDON. London Stock Exchange Group (LSEG) mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) saham senilai tambahan 3 miliar pound sterling (sekitar US$4,1 miliar) dalam 12 bulan ke depan. Langkah ini diambil di tengah tekanan dari investor aktivis Elliott Management serta kekhawatiran bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) dapat menggerus model bisnis perusahaan. LSEG melaporkan total pendapatan tumbuh 7,1% secara organik sepanjang 2025 (di luar pemulihan), sejalan dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat yang dihimpun perusahaan. Sentimen positif tersebut mendorong saham LSEG naik hingga 4,7% pada awal perdagangan di London.
Untuk 2026, LSEG memproyeksikan pertumbuhan pendapatan total organik—dengan basis mata uang konstan dan di luar pemulihan—berkisar antara 6,5% hingga 7,5%. Angka ini sedikit di atas ekspektasi rata-rata analis yang memperkirakan pertumbuhan sekitar 6,7%.
Baca Juga: Rusia Pertanyakan Peran Dewan Perdamaian Trump vs Dewan Keamanan PBB Namun, tekanan pasar masih terasa. Hingga Rabu, saham LSEG telah kehilangan sekitar 30% nilainya dalam setahun terakhir, seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa lonjakan teknologi AI dapat mengganggu bisnis data dan bursa, tidak hanya bagi LSEG tetapi juga para pesaingnya. Dalam beberapa pekan terakhir, Elliott Management muncul sebagai pemegang saham baru dan meningkatkan tekanan terhadap CEO David Schwimmer. Investor tersebut mendorong peningkatan margin yang dinilai masih tertinggal dari pesaing, serta meminta komunikasi yang lebih kuat terkait ketahanan bisnis LSEG terhadap ancaman AI. Elliott sebelumnya juga mendesak program buyback hingga US$5 miliar serta peninjauan portofolio bisnis. Selain buyback, LSEG juga menaikkan dividen sebesar 15%.
Pertumbuhan Langganan Melambat
LSEG mencatat pertumbuhan annual subscription value (ASV)—indikator utama kinerja bisnis—sebesar 5,9%. Meski tetap positif, angka ini melambat dibandingkan pertumbuhan 6,3% pada tahun sebelumnya. Seperti banyak operator bursa global, LSEG dalam beberapa tahun terakhir beralih fokus ke bisnis penyediaan data keuangan.
Baca Juga: Presiden Meksiko Pertimbangkan Gugat Elon Musk Terkait Tuduhan Kartel Narkoba Strategi ini didorong oleh meningkatnya permintaan atas data finansial proprietary, di tengah perlambatan pencatatan saham baru (IPO) dan relokasi sejumlah perusahaan ke bursa luar negeri. Schwimmer menepis kekhawatiran bahwa bisnis data LSEG akan tergeser oleh model AI. Ia menegaskan bahwa data yang dimiliki LSEG bersifat proprietary dan memiliki nilai unik.
Sebagai bagian dari strategi adaptasi teknologi, LSEG juga telah menjalin kemitraan dengan perusahaan AI seperti OpenAI dan Anthropic. Kerja sama ini memungkinkan pengguna mengakses serta menganalisis data LSEG melalui teknologi AI. Dalam pernyataan resminya, Schwimmer menyatakan LSEG berada dalam posisi “sangat kuat untuk melanjutkan pertumbuhan.”