Luas Lahan Kemitraan Wilmar Padi Capai 20.000 Ha, Tersebar di 19 Kabupaten



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. PT Wilmar Padi Indonesia (WPI) terus berkomitmen menjalin kemitraan dengan petani padi melalui Farmer Engagement Program (FEP). 

Hingga Februari 2024, luas lahan kemitraan dengan petani mencapai 20.000  hektare (ha), tersebar di 19 kabupaten di Jawa Timur, Banten, Lampung, Sumatra Utara dan Sumatra Selatan. 

Peningkatan luas lahan kemitraan dengan petani tersebut bertambah signifikan dari 2023 yang hanya 8.903 ha. Hingga Februari lalu, perusahaan telah menggandeng  16.928 petani. Program tersebut telah dimulai pada 2021 dan lahan yang dikerjasamakan saat itu baru 617 ha. 


Baca Juga: Hidupkan Lahan Tidur, Wilmar Padi dan Petani Catatkan Produksi Hingga 7 Ton per Ha

“Program tersebut dapat berjalan dengan baik juga karena dukungan dari pemerintah daerah, dinas pertanian, perusahaan agri input dan gabungan kelompok tani (Gapoktan),” kata Rice Business Head PT WPI Saronto, Jumat (22/3).

Dalam program itu, petani mendapatkan tiga fasilitas. Pertama berupa agri input, yaitu asuransi pertanian serta sarana dan prasarana produksi pertanian. WPI bekerjasama  pemerintah daerah yang memberikan subsidi untuk petani. 

Selain itu, perusahaan juga menggandeng perusahaan asuransi milik pemerintah dan swasta. Kedua, penerapan good agriculture practices (GAP). 

Berdasarkan pengalaman di lapangan, peningkatan produksi gabah petani rata-rata sebesar 15 persen setelah mendapat pendampingan. 

Baca Juga: Bantah Ada Monopoli di Wilmar, Bapanas: Stok Gabah Wilmar Juga Terbatas

Menurut Saronto, pihaknya berharap kemitraan dalam FEP dapat meningkat menjadi 30.000 ha hingga akhir tahun ini. Hal itu diharapkan dapat sejalan dengan program pemerintah dalam meningkatkan produksi gabah dalam negeri. 

“Kami berupaya mengikuti arahan pemerintah untuk ikut meningkatkan ketahanan pangan,” kata Saronto.  

Dia menambahkan, WPI juga memanfaatkan produk samping (by product) menjadi produk hilir yang dapat memberikan nilai tambah, seperti, bekatul, kulit, menir dan sekam. Produk samping tersebut dapat dimanfaatkan tepung beras hingga bahan bakar pengganti batu bara karena nilai kalorinya tinggi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli