Lubrizol Incar Peluang Bisnis dari Transisi Energi Sektor Tambang Indonesia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan teknologi aditif pelumas global Lubrizol melihat peluang pertumbuhan bisnis di Indonesia seiring perkembangan industri pertambangan dan percepatan transisi energi. 

Perusahaan menilai kebutuhan teknologi pelumas akan semakin besar seiring perubahan spesifikasi mesin, penggunaan biodiesel, hingga elektrifikasi alat berat.

Mining Team Lead Lubrizol Serena Yei mengatakan Indonesia menjadi salah satu pasar penting di kawasan Asia Tenggara karena memiliki basis industri dan aktivitas pertambangan yang besar.


"Indonesia adalah pasar yang sangat penting. Kami melihat Indonesia sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan tinggi di Asia Tenggara," kata Serena dalam diskusi bertema Mining That Performs Today Progressing Tomorrow di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Baca Juga: Ekspor Indonesia Tumbuh, DHL Perkuat Keamanan Rantai Pasok di Tengah Risiko Kargo

Menurutnya, potensi tersebut mendorong Lubrizol untuk memperkuat kedekatan dengan pelanggan dan mitra di pasar Indonesia. Perusahaan juga melihat kebutuhan kolaborasi yang semakin besar antara produsen pelumas, pemilik alat, original equipment manufacturer (OEM), hingga pemerintah.

Serena mengatakan perubahan teknologi di sektor pertambangan membuat kebutuhan industri pelumas tidak lagi sebatas menyediakan produk, tetapi juga teknologi yang dapat membantu meningkatkan usia pakai dan produktivitas peralatan.

"Pasar berubah sangat cepat. Jadi kami harus bekerja lebih dekat dengan pelanggan dan melihat bagaimana kami bisa membantu menyelesaikan masalah mereka di lapangan," ujarnya.

Lubrizol sendiri merupakan perusahaan teknologi aditif yang telah beroperasi lebih dari 100 tahun secara global dan telah hadir di Asia Tenggara selama lebih dari empat dekade. Di Indonesia, perusahaan telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pemain industri, termasuk PT Pertamina Lubricants.

Serena mengatakan Lubrizol juga melihat peluang kolaborasi dengan pemain OEM dan distributor alat berat di Indonesia. Menurutnya, kebutuhan teknologi dari sektor tersebut akan berkembang seiring meningkatnya tuntutan efisiensi dan perubahan teknologi peralatan.

"Kami melihat banyak potensi untuk bekerja sama dengan OEM. Mereka mungkin memiliki masalah di sisi peralatan dan membutuhkan solusi teknologi untuk membantu mengatasinya," katanya.

Di sektor pertambangan, salah satu perubahan yang akan mempengaruhi kebutuhan teknologi pelumas adalah peningkatan penggunaan biodiesel. Setelah implementasi B40, pemerintah mengarahkan pengembangan menuju B50 dan penggunaan biodiesel dengan kandungan lebih tinggi dalam jangka panjang.

Serena mengatakan perubahan tersebut akan menjadi tantangan bagi produsen mesin, OEM, maupun perusahaan pelumas karena peningkatan kandungan biodiesel dapat mempengaruhi karakteristik bahan bakar dan kebutuhan perlindungan mesin.

"Banyak yang bertanya bagaimana B50 akan mempengaruhi performa. Setelah B50, mungkin akan ada B60, B70, bahkan B80. OEM juga harus melihat bagaimana mereka memodifikasi peralatan dan mesin," jelasnya.

Baca Juga: Sumber Mas Konstruksi (SMKM) Kejar Akuisisi Bisnis Udang, Ini Prospeknya

Menurut dia, perubahan tersebut membuat pengembangan teknologi harus dilakukan secara bersama-sama. OEM perlu memastikan mesin dapat beroperasi dengan bahan bakar baru, sementara produsen pelumas dan aditif perlu mengembangkan teknologi yang sesuai dengan perubahan tersebut.

Selain biodiesel, elektrifikasi juga mulai menjadi perhatian di sektor pertambangan. Serena menilai penggunaan truk listrik pada industri tambang merupakan tren yang tidak dapat dihindari, meski implementasinya  masih menghadapi tantangan infrastruktur.

"Truk EV tidak bisa dihindari. Itu akan datang. Pertanyaannya adalah seberapa cepat dan seberapa berhasil implementasinya," ujarnya.

Salah satu tantangan terbesar, lanjutnya, adalah kebutuhan infrastruktur pengisian daya di wilayah pertambangan yang umumnya berada di lokasi terpencil.

Karena itu, menurut Serena, transisi energi tidak dapat dilihat hanya dari sisi penggantian kendaraan berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik. Ketersediaan sumber listrik dan infrastruktur pendukung juga perlu diperhitungkan.

Selain perubahan sumber energi, Lubrizol melihat digitalisasi sebagai salah satu arah perkembangan industri alat berat dan pertambangan. Teknologi sensor dan sistem monitoring memungkinkan perusahaan memantau kondisi pelumas serta peralatan secara lebih proaktif.

Serena menjelaskan, selama ini penggantian pelumas pada sejumlah peralatan masih mengacu pada interval penggunaan tertentu. Dengan sistem monitoring, perusahaan dapat menentukan kondisi pelumas berdasarkan data aktual.

"Kalau sebelumnya kita mengikuti 500 jam lalu mengganti oli, sekarang dengan sensor kita bisa melihat kondisinya. Kalau oli masih bagus, mungkin tidak perlu langsung diganti," katanya.

Menurutnya, pendekatan tersebut dapat membantu perusahaan meningkatkan utilisasi aset sekaligus memperpanjang masa pakai peralatan.

Perubahan tersebut juga mendorong pergeseran pola bisnis industri, dari sekadar menjual produk menjadi penyediaan solusi yang terintegrasi dengan kebutuhan peralatan dan operasional pelanggan.

"Kami melihat diri kami sebagai technology enabler. Kami menyediakan teknologi kimia yang masuk ke dalam pelumas untuk meningkatkan perlindungan peralatan, sehingga mesin dapat beroperasi lebih baik dan dengan lebih sedikit downtime," kata Serena.

Ia menambahkan, tren tersebut membuat kolaborasi antara penyedia teknologi, perusahaan pelumas, OEM, pemilik tambang dan pemerintah menjadi semakin penting.

Bagi Lubrizol, peluang pertumbuhan di Indonesia dalam jangka panjang akan berasal dari kebutuhan industri terhadap teknologi yang mampu menjaga produktivitas peralatan sekaligus beradaptasi dengan perubahan energi.

"Kami melihat potensinya di Indonesia. Bukan hanya Lubrizol, banyak perusahaan lain juga berinvestasi di Indonesia. Dalam jangka panjang, kami berharap dapat tumbuh bersama Indonesia dan para mitra kami," pungkas Serena.

Baca Juga: Apindo: Usulan 45 Jam Kerja Sepekan Hanya untuk Studi Banding

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News