KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melihat momentum di tengah ketidakpastian global untuk mempercepat pembangunan Indonesia Financial Center sebagai mesin baru penarik investasi dan arus modal. Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan langkah ini penting agar Indonesia tak sekadar bertahan, tetapi mampu naik kelas dalam peta keuangan global. Dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto, Luhut menyampaikan kondisi ekonomi domestik masih relatif terjaga dalam tiga bulan ke depan, meski dunia dibayangi ketegangan geopolitik.
Baca Juga: Prabowo Berencana Bangun Special Financial Center, Apa Itu? "Pertumbuhan dan aktivitas ekonomi kita masih dalam posisi terjaga," ujarnya seperit dikutip dari Instagran
@luhut.pandjaitan. Meski demikian, DEN telah menyiapkan berbagai skenario kebijakan antisipatif, terutama jika konflik global berkepanjangan. Risiko utama datang dari lonjakan harga energi dan melebarinya selisih harga antara minyak mentah dan BBM. Selain itu, gangguan rantai pasok komoditas strategis seperti sulfur juga menjadi perhatian, mengingat perannya dalam hilirisasi nikel dan pengembangan baterai kendaraan listrik. Di tengah tekanan tersebut, pemerintah menilai stabilitas fiskal masih bisa dipertahankan. Defisit APBN diproyeksikan tetap di bawah 3% melalui efisiensi belanja dan tambahan penerimaan dari ekspor komoditas seperti batu bara dan sawit. Pada saat yang sama, aktivitas ekonomi didorong lewat percepatan deregulasi guna memberikan kepastian bagi dunia usaha. Namun, Luhut menekankan bahwa langkah defensif saja tidak cukup. Indonesia perlu strategi ofensif untuk memanfaatkan pergeseran arus modal global. Salah satunya melalui pembangunan *Indonesia Financial Center* yang terintegrasi, modern, dan kompetitif di tingkat regional.
Baca Juga: Prediksi IHSG 10.000: INDEF Soroti Dampak Geopolitik pada Arus Modal Asing Pengembangan pusat keuangan ini dinilai krusial karena dapat memperdalam pasar keuangan domestik, memperluas akses pembiayaan, serta mengurangi ketergantungan pada aliran modal jangka pendek. Selain itu, keberadaan financial center akan memperkuat posisi Indonesia sebagai hub investasi, seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan untuk proyek infrastruktur, hilirisasi industri, dan ekonomi digital. Upaya ini juga akan berjalan beriringan dengan percepatan transformasi digital pemerintahan (*GovTech*), yang bertujuan memangkas birokrasi dan meningkatkan efisiensi layanan publik. Dengan ekosistem yang lebih transparan dan terintegrasi, Indonesia diharapkan mampu menarik investor global yang mencari pasar berkembang dengan fondasi kuat.
Baca Juga: Solusi Bangun Indonesia (SMCB) Suplai Beton Siap Pakai ke Pabrik Lotte Cilegon “Ini momentum yang harus kita ambil,” kata Luhut. Ke depan, pemerintah berharap kombinasi stabilitas makro, reformasi struktural, dan pembangunan pusat keuangan akan menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya tahan terhadap gejolak global, tetapi juga mampu memanfaatkan peluang untuk melompat lebih jauh dalam pertumbuhan ekonomi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News