KONTAN.CO.ID - Membangun kekayaan dari nol seringkali dianggap sebagai tantangan mustahil bagi investor pemula. Namun, bagi Warren Buffett, sang "Oracle of Omaha", kunci keberhasilan investasi tidak terletak pada besarnya modal awal, melainkan pada disiplin dan strategi yang tepat. Dalam sebuah sesi pertemuan pemegang saham, Buffett pernah memaparkan bagaimana dirinya akan memulai kembali jika hanya memiliki modal US$ 10.000 atau sekitar Rp168,56 juta(kurs Rp 16.856 per US$). Meski angka ini terlihat moderat bagi kelas investor institusi, Buffett meyakini modal tersebut sudah lebih dari cukup untuk membangun aset raksasa di masa depan.
1. Fokus pada Lingkaran Kompetensi
Strategi pertama yang selalu ditekankan Buffett adalah berinvestasi pada bidang yang benar-benar dipahami. Buffett menerapkan mantra dari pendiri IBM, Tom Watson Sr., yang menyatakan bahwa rahasia kesuksesan adalah tetap berada di area di mana seseorang merasa pintar atau ahli, atau yang disebut sebagai circle of competency. Dengan berfokus pada industri yang dipahami dan menghindari godaan untuk mengejar tren yang tidak dikuasai, investor dapat membangun portofolio dengan pendekatan yang lebih sabar. Namun, Buffett memberikan catatan penting mengenai volatilitas pasar. "Anda harus siap, ketika membeli saham, harganya bisa turun 50% atau lebih, dan Anda harus tetap merasa nyaman selama Anda yakin dengan kepemilikan tersebut," ujar Buffett dikutip dari laporan pertemuan pemegang saham Berkshire Hathaway tahun 2020.2. Memanfaatkan Efek Bola Salju Sejak Dini
Keberhasilan investasi Buffett sangat dipengaruhi oleh faktor waktu. Beliau mulai membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun dan masih aktif hingga usia sembilan puluhan. Buffett sering menggunakan metafora bola salju untuk menjelaskan kekuatan bunga majemuk (compound interest). "Kami memulai dengan bola salju kecil di atas bukit yang sangat tinggi," ungkap Buffett melansir Yahoo Finance. Semakin lama bola salju tersebut menggelinding ke bawah, maka ukurannya akan semakin besar secara eksponensial. Sebagai gambaran nyata dari kekuatan waktu, sebagian besar kekayaan Buffett justru terakumulasi setelah beliau berusia 65 tahun. Menurut data Bloomberg, pada tahun 1999, kekayaan bersih Buffett tercatat sekitar US$ 30 miliar (sekitar Rp 505,6 triliun). Kini, angka tersebut telah melonjak hampir lima kali lipat menjadi sekitar US$ 150 miliar atau setara dengan Rp 2.528,4 triliun.3. Mencari Peluang di Perusahaan Kecil
Jika harus memulai kembali dengan dana US$ 10.000 atau Rp 168,56 juta, Buffett mengaku akan mengincar perusahaan-perusahaan dengan kapitalisasi pasar kecil (small-cap). Menurutnya, bekerja dengan jumlah dana yang lebih kecil memberikan peluang untuk menemukan permata tersembunyi yang sering terabaikan oleh investor besar. Tonton: CEO Exxon Sebut Venezuela Tak Layak Investasi, Trump Meradang Dalam sejarah perjalanannya, Buffett pernah melakukan langkah-langkah berikut:- Akuisisi perusahaan furnitur kecil di Nebraska pada tahun 1983 saat perusahaan tersebut baru mulai berekspansi.
- Pembelian See’s Candies pada tahun 1972, yang kala itu hanya menghasilkan laba tahunan sebesar US$ 4 juta (sekitar Rp 67,42 miliar dengan kurs saat ini).
Pentingnya Rasionalitas dan Efisiensi
Mendiang mitra bisnis Buffett, Charlie Munger, juga memberikan perspektif berharga mengenai akumulasi kekayaan. Menurut Munger, bagian tersulit bagi kebanyakan orang adalah mengumpulkan US$ 100.000 pertama (sekitar Rp 1,68 miliar).- Semangat untuk tetap rasional dalam setiap keputusan finansial.
- Sikap yang sangat antusias dan oportunistik terhadap peluang pasar.
- Kedisiplinan untuk hidup jauh di bawah kemampuan pendapatan mereka (underspend income grossly).