Lupakan Harganya, Yang Penting Rasanya



JAKARTA. Industri bakery merupakan industri di mana semua orang dapat bermain dengan mudah. Bahkan hanya dengan modal Rp 25 juta saja seseorang dapat mendirikan pabrik roti dengan mudah. Tak heran jika persaingan industri ini sangat kompetitif dan makin meningkat dari tahun ke tahun. Saat ini ada sekitar 500 perusahaan roti tersebar di seantero Indoensia. 470 perusahaan tergabung dalam wadah Asosiasi Pengusaha Bakery Indonesia (Apebi) sementara sisanya tergabung dalam Asosiasi Bakery Indonesia (ABI). Salah satu pemain besar industri ini adalah PT Nippon Indosari Corpindo, yang membesut merek Sari Roti dan Boti ke pasar. Menurut General Manager PT Nippon Indosari Corpindo, Yusuf Hady, industri bakery diperkirakan turun sebesar 5% sampai 10% tahun depan. Untuk itu, pihaknya bakalan bermain di variasi bentuk roti untuk memikat pembeli. "Saya tidak setuju ada perang harga. Semua produsen menurut saya punya segmen sendiri-sendiri. Karena berjualan roti pada dasarnya adalah berjualan citarasa," ujarnya. Hady sendiri mengubah bentuk rotinya agar sesuai dengan selera dan tebalnya kantong konsumen. Misalkan untuk pasar anak sekolahan, roti dibuat dalam bentuk yang lebih mini. Pasalnya, anak-anak menurut Hady, selalu mengonsumsi roti dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Untuk itu, Hady membanderol harga produk Sari Roti di angka Rp 2800 per bungkus sampai Rp 9.000 per bungkus. Sementara untuk kelas yang lebih bawah lagi dan untuk area pinggiran Jakarta, Hady mengandalkan penjualan roti Boti dengan harga 40% di bawah harga Sari Roti. Saban harinya, pabrik PT Nippon Indosari Corpindo mampu menghabiskan 500-600 ton terigu untuk menyuplai kebutuhan Sari Roti se Indonesia. Sementara untuk Boti, pabrik ini mampu menghabiskan 50 ton terigu tiap harinya. "Tahun 2008 ini, Sari Roti mengalami kenaikan volume penjualan sampai 10%. Namun untuk tahun 2009 nanti, kalau kenaikannya sama dengan bunga deposito saja kami sudah happy," kata Hady lagi. Salah satu hal yang membuat Hady khawatir adalah isu PHK tahun 2009 nanti. Karena, produk roti Botinya dipastikan bakalan terkena imbas turun penjualan. "Saat ini sudah mulai terasa. Banyak buruh pabrik yang kena PHK. Padahal mereka pelanggan kami," keluhnya. Lagi pula, merek Boti pun harus bersaing dengan banyak merek lokal lainnya yang juga bermain di segmen bawah. Senada dengan Hady, pemilik Gut Bakery Chris Hardijaya yang juga ketua Asosiasi pengusaha Bakery Indonesia juga bakal melakukan variasi bentuk roti untuk menjaring pembeli. Rotinya sendiri dibanderol seharga Rp 3000 sampai Rp 7500 per bungkus dan hanya dipasarkan untuk area Jabodetabek semata. "Saya tidak kuat kalau harus listing ke ritel modern karena biaya listingnya sangat mahal," ujarnya. Chris juga bilang, bahwa rata-rata pemain di bisnis ini bakalan mengerem produksinya. Gut Bakery sendiri sudah mengurangi produksinya dari 300 kilo terigu per hari menjadi 200 kilo per hari. "Masalahnya, masyarakat bawah yang jadi segmen saya ikut tergerus krisis, sehingga penjualan saya terpengaruh," ujarnya. Memang, industri bakery saat ini sedang menghadapi penurunan daya beli masyarakat akibat krisis. Gut Bakery sendiri sudah merasakan omsetnya tergerus sebanyak 10% tahun ini. pasalnya, rata-rata omsetnya sebesar Rp 5 juta sehari harus turun jadi Rp 4 jutaan sehari. "Semoga saja tidak ada PHK untuk industri bakery," pungkas Chris. Aprillia Ika

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News