Macetnya pabrik di Rembang tak berefek ke SMGR



JAKARTA. Roadmap ekspansi PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) pada tahun ini seharusnya menambah kapasitas produksi mencapai 6 juta ton dengan penambahan dua pabrik. Namun pasca pemberhentian izin pabrik di Rembang, kemungkinan kapasitas produksi SMGR hanya naik separuh dari rencana.

Analis Ciptadana Sekuritas Zabrina Raissa mengatakan belum melihat potensi penambahan produksi SMGR sesuai rencana. Pasalnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memberhentikan izin proyek Rembang, ditengah kostruksi pabrik yang sudah mencapai 99%. ”Sampai saat ini saya melihat belum ada kegiatan operasi pada pabrik itu,” katanya dalam riset (25/1).

Walaupun batal beroperasi tahun ini, Zabrina masih belum melihat adanya risiko atau dampak terhadap kinerja operasional SMGR secara keseluruhan. Melihat permintaan semen saat ini masih stagnan yang membuat pangsa pasar SMGR semakin menurun.


Hal ini disebabkan semakin beratnya persaingan di Jawa dengan pemain tier dua yang banyak, serta lemahnya implementasi pembangunan ifnrastruktur pemerintah. Yang mengakibatkan, permintaan semen tidak bertambah. ”Makanya tahun ini program percepatan infrastruktur, diharapkan bisa menjadi angin segar ke pasar semen,” kata Zabrina.

Zabrina memprediksi penjualan semen tahun ini hanya mencapai 27,48 juta ton. Dimana penjualan semen SMGR masih stagnan, dengan perolehan pangsa pasar mencapai 38,9%. Walaupun prediksi dari manajemen penjualan SMGR masih bisa tumbuh 5% pada tahun ini.

Sementara Analis JP Morgan Felicia Tandiyono mengatakan secara operasional memang tidak ada dampak oprasional dari pemberhentian pabrik di Rembang ini. Namun bukan berarti tidak menjadi risiko perusahaan melihat saat ini proses hukum fasilitas Rembang ini masih ditunda. ”Masih menjadi risiko perusahaan tahun ini,” katanya dalam riset (24/1).

Dia mengatakan secara total kapasitas produksi SMGR sudah bertambah menjadi 36 juta ton tahun ini dari dua fasilitas pabrik Indarung VI Sumatera Barat sebanyak 3 juta ton dan Rembang Jawa Tengah 3 juta ton. Walaupun untuk proyek Rembang masih belum memulai kapasitas produksinya.

Dengan kondisi ini Felicia juga masih meyakini tidak akan menganggu oprasional perusahaan pada tahun ini. Melihat permintaan semen juga masih diprediksi hanya tumbuh hingga 4% pada tahun ini dengan tingkat utilisasi produksi rata-rata 63%-64%. Peningkatan penjualan baru bisa dirasakan pada semester kedua dengan asumsi proyek properti dan proyek infrastruktur bergulir.

Di sektor semen, Felicia masih merekomendasikan overweight untuk saham SMGR, melihat adanya potensi ekspor yang lebih besar dan lokasi fasilitas produksi yang tersebar. Sementara Zabrina juga merekomendasikan buy saham SMGR ditarget harga Rp 10.800, walaupun akibat isu pabrik rembang, harga saham SMGR menurun 5,45% year to date.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto