KONTAN.CO.ID - PARIS. Presiden Emmanuel Macron dijadwalkan memperbarui doktrin nuklir Prancis pada Senin mendatang. Dalam pembaruan tersebut, Paris menegaskan tidak akan membuka kontrol bersama senjata nuklir di tingkat Eropa, namun akan menjelaskan kontribusi yang bisa diberikan kepada sekutu yang mulai meragukan keandalan payung nuklir Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump. Langkah ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran di Eropa terkait komitmen keamanan transatlantik yang selama puluhan tahun menjadi pilar utama pertahanan kawasan.
Eropa Mulai Ragu pada Payung Nuklir AS
Meskipun Prancis dan Inggris merupakan kekuatan nuklir, sebagian besar negara Eropa selama ini bergantung pada Amerika Serikat untuk pencegahan strategis terhadap potensi ancaman. Namun, pendekatan Trump terhadap Rusia dalam perang Ukraina serta sikap keras terhadap sekutu tradisional — termasuk ancaman untuk mengambil alih Greenland, wilayah otonom milik Denmark — telah mengguncang kepercayaan sejumlah pemerintah Eropa.
Baca Juga: Harga Lithium China Meroket! Ini Faktor Kenaikannya Awal bulan ini di Munich, Kanselir Jerman Friedrich Merz mengungkapkan bahwa Berlin telah membuka diskusi dengan Paris mengenai kemungkinan pembentukan pencegah nuklir Eropa. Macron menyebut pendekatan ini harus dilihat sebagai bagian dari strategi pertahanan dan keamanan yang menyeluruh. Beberapa negara lain, termasuk negara Nordik yang selama ini pro-AS, juga mulai menunjukkan ketertarikan secara hati-hati.
Kapabilitas Nuklir Prancis Dipertanyakan
Di balik diskusi tersebut, muncul keraguan di kalangan pejabat Eropa mengenai sejauh mana arsenal Prancis mampu melindungi seluruh benua. Saat ini, Prancis mengalokasikan sekitar 5,6 miliar euro per tahun untuk mempertahankan sekitar 290 hulu ledak nuklir berbasis laut dan udara — menjadikannya arsenal terbesar keempat di dunia. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte sebelumnya mengingatkan bahwa membangun kemampuan nuklir mandiri akan menelan biaya sangat besar. Ia menegaskan bahwa Eropa berisiko kehilangan “penjamin utama kebebasan”, yakni payung nuklir Amerika Serikat. Sebagai bagian dari pencegahan NATO, diperkirakan sekitar 100 bom nuklir AS ditempatkan di Belgia, Jerman, Italia, Belanda, dan Turki melalui skema “nuclear sharing”.
Prancis Tidak Ingin Gantikan NATO
Pejabat Prancis menegaskan bahwa Paris tidak berniat menggantikan peran Amerika Serikat maupun bersaing dengan NATO.
Baca Juga: Moody’s: Defisit Fiskal Vietnam Melebar Imbas Belanja Infrastruktur Jumbo Berbeda dengan doktrin AS yang fokus pada penghancuran arsenal nuklir lawan, doktrin Prancis dan Inggris bertujuan memberikan kerusakan yang tidak dapat diterima terhadap pusat politik, militer, dan ekonomi musuh. Pendekatan ini dinilai membutuhkan jumlah hulu ledak yang lebih sedikit untuk tetap kredibel.
Kontrol Tetap di Tangan Nasional
Paris ingin mitra Eropa memahami batas kemampuan doktrin nuklirnya. Namun, Prancis bersikeras bahwa pendanaan dan kontrol atas kekuatan nuklir tetap menjadi tanggung jawab nasional. Salah satu elemen utama strategi Prancis adalah “ambiguitas strategis” mengenai kapan senjata nuklir akan digunakan dan bagaimana kepentingan vital Prancis berkaitan dengan pertahanan Eropa. Namun, pendekatan ini belum sepenuhnya meyakinkan semua pihak. Seorang diplomat Eropa Timur menegaskan bahwa kredibilitas pencegahan lebih penting daripada sekadar keberadaannya.
Tantangan Teknologi dan Non-Proliferasi
Perluasan peran Prancis juga akan menuntut pengembangan rudal jarak jauh di atas 2.000 km — kemampuan yang saat ini belum dimiliki Eropa. Sementara itu, pengembangan senjata nuklir taktis untuk medan perang dinilai kecil kemungkinannya karena berpotensi melanggar prinsip non-proliferasi yang selama ini didukung pemerintah Eropa.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Kamis (26/2) Pagi: Brent ke US$ 71,12 dan WTI ke US$ 65,65 Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas menyatakan bahwa meningkatnya diskusi nuklir mencerminkan perubahan dalam aliansi transatlantik. Namun ia mengingatkan bahwa bertambahnya senjata nuklir di dunia tidak serta-merta menciptakan dunia yang lebih damai.
Pembaruan Doktrin Nuklir Macron
Macron akan menyampaikan pembaruan doktrin nuklir di pangkalan kapal selam nuklir Prancis di Brittany. Doktrin tersebut tetap berpegang pada prinsip mempertahankan arsenal minimal namun kredibel untuk mencegah serangan pertama dari pihak lawan. Sejak pidato terakhir pada 2020, lanskap strategis telah berubah drastis, terutama dengan meningkatnya arsenal Rusia dan retorika nuklir sejak invasi ke Ukraina pada 2022. Meski Prancis sejak lama menyatakan kepentingan vitalnya memiliki dimensi Eropa, satu prinsip tetap tidak berubah:
Keputusan penggunaan senjata nuklir sepenuhnya berada di tangan presiden Prancis. “Itu akan tetap demikian,” ujar seorang penasihat kepresidenan.