Made in China Mengusik Kemewahan Gucci Sebagai Merek Ikonik Italia



KONTAN.CO.ID - FROLENCE. Label “Made in Italy” selama ini bukan sekadar tulisan di produk Gucci. Ia menjadi bagian dari cerita tentang kemewahan, desain, dan warisan Italia yang melekat pada merek tersebut. Namun, cerita itu sedikit bergeser lewat sneaker terbaru Gucci bernama Drip. Sepatu yang menjadi sneaker pertama rancangan Demna untuk Gucci ini justru mencantumkan label “Made in China”. Harganya tentu lebih terjangkau dibanding sejumlah sneaker Gucci lainnya.

Melansir Reuters (25/9), Drip hadir dengan desain yang jauh dari sneaker klasik Gucci Ace. Sepatu rancangan Demna ini hadir tanpa tali, ciri khas desain Demna sejak masih menangani Balenciaga. Model kedua dari koleksi Primavera yang menggunakan bahan kulit juga tercantum dibuat di China.

Harga Drip juga memperlihatkan bagaimana Gucci mulai bermain di segmen yang sensitif harga. Dengan banderol sekitar € 800 di Eropa atau US$ 1.000 di Amerika Serikat, sepatu ini masih jauh dari kategori produk mass market, tetapi relatif lebih rendah dibanding sejumlah sneaker dan produk Gucci lain yang harganya dapat menembus ribuan euro.


Posisi tersebut memberi ruang bagi Gucci untuk menjangkau konsumen yang ingin masuk ke dunia barang mewah tanpa harus mengeluarkan dana sebesar pembeli kelas atas.

Bagi Gucci, keputusan tersebut berkaitan dengan kebutuhan teknis. Produsen China yang dipilih dinilai memiliki keahlian dan kemampuan produksi yang sesuai dengan standar kualitas serta performa yang diinginkan. Gucci juga menegaskan Italia tetap menjadi pusat manufaktur dan bagian penting dari identitasnya.

Strategi ini dijalankan pada saat yang cukup sensitif. Penjualan Gucci telah merosot hingga sekitar separuh dalam tiga tahun terakhir. Pelemahan kinerja ikut menekan margin Kering, induk Gucci, dan mendorong grup tersebut menutup puluhan gerai.

Kini, Gucci mencoba mendekati kembali konsumen yang menginginkan barang mewah tetapi semakin berhitung soal harga. Kelompok yang dikenal sebagai aspirational shoppers ini menjadi sasaran penting karena jumlahnya besar, meski daya belinya tidak setinggi konsumen ultra-kaya.

Upaya tersebut terlihat dari strategi harga. Sumber dari Kering menyebut Gucci mulai menurunkan harga sejumlah produk, termasuk di China. Strategi tersebut diharapkan dapat membantu merek itu merebut kembali pangsa pasar. Tapi strategi ini juga menimbulkan pertanyaan soal nilai sebuah produk Gucci.

Analis Berenberg menilai, penggunaan label “Made in China” berpotensi mempertentangkan asal produk dan citra kemewahan yang dibangun Gucci. Konsultan barang mewah Simon Whitehouse juga menilai, label tersebut dapat menjadi tantangan bagi persepsi merek.

Dilema itu kini berada di tangan Demna, sebagai Direktur Kreatif Gucci. Ia dituntut menghadirkan desain yang segar dan menarik konsumen baru, sembari membantu Gucci mengendalikan biaya. Koleksi terbarunya yang akan dipamerkan di Milan menjadi bagian penting dari upaya Kering membalikkan kinerja merek andalannya tersebut.

Pada akhirnya, Drip bukan sekadar sneaker baru. Sepatu ini mencerminkan persoalan yang lebih besar di tubuh Gucci.  n