Madu Desa Pelawan yang Menyengat Pasar Global



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjaga hutan agar lestari sembari mengembangkan potensi ekonomi desa menjadi misi bagi Muhammad Zaiwan. Bersama masyarakat setempat, Zaiwan mengembangkan usaha madu Pelawan hingga menjadi salah satu produk unggulan berbasis hutan lestari yang diminati pasar internasional.

Produk madu ini lahir dari hutan Pelawan yang berada di Desa Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung. Sebagai Kepala Desa Namang, Zaiwan mengambil langkah berani dengan menerbitkan Peraturan Desa (Perdes) untuk melindungi Hutan Pelawan dari ancaman penambangan timah liar.

Alih-alih mengeksploitasi hutan, Zaiwan mengajak masyarakat untuk mengembangkan potensi ekonomi berkelanjutan melalui hasil hutan bukan kayu, salah satunya adalah madu Pelawan.


Ini adalah madu pahit khas yang dihasilkan lebah liar dari bunga pohon Pelawan.

"Tradisi mencari madu sebenarnya sudah turun-temurun dilakukan warga Desa Namang, namun perlahan ditinggalkan karena lebih memilih menambang timah," ungkap Zaiwan.

Baca Juga: Usaha Kian Berkembang di Tangan Generasi Kedua

Saat ini, madu Pelawan memiliki nilai ekonomi yang signifikan. Madu grade A dijual Rp 1,5 juta per kilogram (kg), sementara grade B dijual Rp 750.000 per kg. Pengembangan komoditas ini melibatkan 125 petani dan pencari madu di Desa Namang.

Adapun produksi madu Pelawan bisa mencapai 200 botol per bulan. Malah produksinya bisa meningkat hingga 600 botol pada momen tertentu, seperti hari libur atau hari raya nasional. 

Baca Juga: Akselerator Global Mendorong Startup Indonesia Unjuk Gigi di Kancah Dunia

Masyarakat pun bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp 5 juta – 6 juta per bulan, yang mana setiap pencari madu mampu menghasilkan antara 60 hingga 90 botol madu. 

Pada 2024, madu Pelawan memperoleh sertifikasi Indikasi Geografis (IG) dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Sertifikasi ini menegaskan identitas geografis madu Pelawan sebagai komoditas khas Desa Namang, Kabupaten Bangka Tengah yang diakui pemerintah. Selain itu, sertifikasi juga bertujuan melindungi produk dari pemalsuan.

Baca Juga: Menghias Fulus dari Batik Khas Bengkulu

Zaiwan meyakini, Madu Pelawan dari desanya memiliki potensi dan ciri khas yang unik, sehingga bisa menarik minat dari pasar lokal maupun internasional. Bak gayung bersambut, produk Madu Hutan Pelawan mendapat kesempatan untuk ikut Pameran Trade Expo Indonesia pada tahun 2025.

Madu Pelawan lantas ikut pameran internasional itu, dengan dukungan dari Indonesia Eximbank atau Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). 

Hasilnya Madu Pelawan mendapatkan pembeli dari sejumlah negara. Bahkan produk turunan mereka, yang berupa teh daun Pelawan berhasil menembus pasar Jepang. 

"Ini momentum memperkenalkan Madu Hutan Pelawan ke pasar global dan bukti produk desa bisa bersaing di tingkat dunia," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: