Maduro 2.0: Apa yang Terjadi Jika AS Menyingkirkan Ayatollah Khamenei?



KONTAN.CO.ID - Donald Trump sedang mengirimkan sebuah “armada” ke Timur Tengah. Kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kelompok tempurnya dijadwalkan tiba di Laut Arab dalam beberapa hari ke depan. Jet-jet tempur Amerika yang biasanya bermarkas di Inggris telah mendarat di Yordania. Sistem pertahanan antirudal pun sudah ditempatkan di kawasan Teluk.

Semua ini memang belum membuktikan bahwa Donald Trump sedang bersiap berperang melawan Republik Islam Iran. Namun, langkah-langkah tersebut persis seperti apa yang akan ia lakukan jika benar-benar menyiapkan perang. Dan meskipun detail rencana militernya tidak diketahui publik, kemiripannya dengan pengerahan kekuatan AS di sekitar Venezuela tahun lalu sulit diabaikan.

Hal ini memunculkan pertanyaan besar: apakah Trump tengah merencanakan pengulangan operasi penculikan Nicolas Maduro, sebuah operasi “pemenggalan kepemimpinan” di mana Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dibunuh atau diculik, sementara rezim Iran tetap dipertahankan? Dan jika pasukan AS mampu melakukannya, apa dampaknya?


Melansir The Telegraph, di Venezuela, jika presiden wafat, jatuh sakit, atau tidak mampu menjalankan tugas (misalnya ditangkap oleh Delta Force), maka wakil presiden otomatis mengambil alih. Karena itu, perencana Amerika diyakini sudah tahu bahwa Delcy Rodríguez akan menggantikan Maduro dan kemungkinan besar telah menghubunginya terlebih dahulu untuk memastikan kerja sama.

Sulit membayangkan Amerika akan melancarkan operasi untuk menyingkirkan Khamenei tanpa terlebih dulu menentukan sosok penerus yang mereka anggap bisa diterima. Jika mengikuti pola Venezuela, ini berarti AS tidak akan mencoba mengangkat tokoh oposisi di pengasingan, seperti Reza Pahlavi, putra mahkota Iran yang memosisikan diri sebagai simbol alternatif kepemimpinan nasional.

Baca Juga: Anomali Cuaca: Badai Musim Dingin Lumpuhkan 17 Negara Bagian AS

Namun di sisi lain, Washington juga jelas tidak ingin sistem pemerintahan ulama, sebagaimana diatur dalam konstitusi Republik Islam Iran saat ini, terus berlanjut.

Sebagian pihak menduga Amerika akan lebih memilih figur “orang kuat” yang pragmatis, seperti Mohammad Bagher Ghalibaf, ketua parlemen konservatif, mantan wali kota Teheran, sekaligus eks komandan Garda Revolusi Iran (IRGC).

Hasil akhirnya, menurut spekulasi ini, bisa berupa kediktatoran militer yang korup, siap bernegosiasi dengan Trump selama kekuasaan dan kekayaannya tidak diganggu. Ini tentu menjadi mimpi buruk bagi warga Iran yang berani turun ke jalan melakukan protes bulan ini, namun sejalan dengan hasil intervensi AS di Venezuela.

Di Caracas, skenario itu tampak berjalan: Rodríguez sudah siap mengambil alih kekuasaan sebagai wakil presiden.

Namun Iran adalah kasus yang sangat berbeda.

Jika Amerika tidak menginginkan Ayatollah baru, mereka tidak bisa sekadar menyingkirkan Khamenei lalu membiarkan mekanisme suksesi konstitusional berjalan seperti di Venezuela. Upaya menggulingkan sekaligus Pemimpin Tertinggi dan struktur teokrasi di bawahnya hampir pasti akan menghadapi perlawanan keras dan penuh kekerasan.

Kekacauan bisa terjadi. Perang saudara, dan bencana kemanusiaan bagi rakyat Iran, bukanlah sesuatu yang mustahil.

Baca Juga: Warga AS Tewas Ditembak Agen Imigrasi Federal, Minneapolis Bergejolak