Maersk tertarik beli aset milik Shell



LONDON. Perusahaan pelayaran terbesar di dunia, AP Moller Maersk berencana membeli aset milik Royal Dutch Shell lewat Maersk Oil. Maersk telah mengadakan pembicaraan intensif dengan Shell beberapa pekan lalu.

Sumber Reuters menyebutkan, Shell akan menjual sebagian ladang minyak di Laut Utara yang memiliki nilai US$ 30 miliar. Nilai transaksi diperkirakan mencapai US$ 2 miliar. Namun Shell dan Maersk enggan berkomentar soal rencana ini.

Banyak yang menyebut, aset yang hendak dijual Shell cukup mahal.  Tapi, sumber menyebut, Maersk percaya dengan membeli aset milik Shell itu bisa menghemat biaya produksi. "Mereka bisa berpeluang untuk merger untuk bisa segera mendapatkan nilai tambah yang diinginkan," imbuh sumber tersebut.


Sumber itu menambahkan, skala bisnis anak usaha Maersk di bidang minyak dan gas yang besar, membuat perusahaan asal Denmark ini melakukan spin off bisnis. Kamis (22/9), Maersk mengumumkan, akan membenahi bisnis transportasi dan logistik.

Selain itu, perusahaan pelayaran tersebut juga berencana merrestrukturisasi divisi energi. Caranya bisa dengan patungan, merger atau menawarkan saham perdana ke bursa.

Maersk menyebutkan, sejak tahun lalu telah berinvestasi di bisnis minyak. Perusahaan ini siap mengeluarkan dana miliaran dollar untuk memperluas operasi minyak. Meskipun bisnis dan keuangan perusahaan minyak sedang tertekan karena harga minyak yang melemah dan kehilangan banyak kontrak minyak.

Ekspansi

Maersk Oil saat ini sedang mengembangkan lapangan gas Culzean yang diharapkan memulai produksi pada 2019. Ladang ini diperkirakan bisa memasok hingga 5% dari permintaan gas di Inggris. Berdasarkan data di website Maersk Oil, produksi mereka mencapai  500.000 barel per hari.

Analis Barclays memperkirakan Maersk Oil memiliki nilai pasar sekitar US$ 4,7 miliar. Maersk Oil mengalami serangkaian kemunduran. Terutama saat Qatar memilih tidak memperpanjang lisensi untuk beroperasi di Al Shaheen.

Rencana pengembangan lahan lepas pantai Angola juga terhenti karena ingin berjuang mengurangi biaya. Pada Februari 2016, Maersk merugi US$ 2,6 miliar.

Meski begitu, banyak aset yang dianggap menarik termasuk saham dan pengembangan lapangan minyak milik perusahaan Norwegia. "Divisi energi semacam dipotong untuk kemudian dijual," kata Analis Sydbank Morten Imsgard. Sejatinya, Maersk Oil pemain kecil sehingga ada banyak pemain besar yang berminat mengambil Maersk Oil. Tapi para pesaing juga sedang kesulitan dana.

Editor: Sanny Cicilia