KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Maharaksa Biru Energi Tbk (
OASA) siap ambil bagian untuk mendukung pengembangan ekosistem Waste to Energy (WtE) di Indonesia. OASA akan memacu ekspansi bisnis WtE dengan menggarap tiga proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Direktur Utama Maharaksa Biru Energi, Bobby Gafur Umar mengungkapkan bahwa proyek PSEL yang akan dibangun oleh OASA berlokasi di Lampung Raya, Tangerang Selatan (Tangsel) dan Jakarta. PSEL Lampung Raya merupakan proyek terbaru yang didapat oleh OASA melalui konsorsium Bumi Biru Indonesia (SUS Indoplas). Konsorsium tersebut telah ditetapkan sebagai mitra terpilih (selected partner) untuk pengembangan proyek PSEL Lampung Raya dalam proses Partner Selection Batch-2 yang diselenggarakan oleh Danantara Indonesia.
Konsorsium Bumi Biru Indonesia terdiri atas SUS Environment Inc. serta anak usaha OASA, PT Indoplas Dewata Energi.
Baca Juga: Isuzu Investasi Rp 2 Triliun untuk Perkuat Kapasitas Pabrik Karawang Proyek PSEL Lampung Raya dirancang memiliki kapasitas pengolahan sampah sekitar 1.167 ton per hari. Dari informasi awal, proyek ini diproyeksikan bisa memproduksi listrik dengan kapasitas sekitar 20 Megawatt- 25 Megawatt (MW). PSEL Lampung Raya ditargetkan bisa memulai proyek (
groundbreaking) pada kuartal III-2026 untuk beroperasi pada kuartal IV-2028. Bobby mengungkapkan bahwa skema proyek PSEL Lampung Raya mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025. Melalui Perpres tersebut, tarif listrik ditetapkan seharga US$ 0,20 per kilowatt-hour (kWh) dengan kontrak jual-beli listrik selama 30 tahun. Danantara pun akan ikut ambil bagian dalam proyek tersebut, sehingga secara investasi dan komersial akan lebih menarik serta pengelolaan risiko yang lebih baik. Bobby meyakini perubahan skema dan regulasi dari Perpres Nomor 35 Tahun 2018 menjadi Perpres Nomor 109/2025 bisa mengakselerasi pengembangan proyek PSEL. "(Sebelumnya) ada beberapa risiko dan cost yang mengakibatkan investasinya tinggi. Jadi (dengan Perpres baru) sudah mengurangi banyak risiko, capex dan investasi," ungkap Bobby dalam paparan yang disampaikan pada Senin (20/7/2026).
Proyek lain yang dimiliki oleh OASA adalah PSEL Tangsel. Proyek dengan kapasitas pengolahan 1.100 ton sampah per hari ini ditargetkan memiliki output listrik sebesar 25 MW. Proyek PSEL Tangsel dilaksanakan oleh PT Indoplas Tianying Energy, yakni kongsi antara anak usaha OASA, PT Indoplas Energi Hijau yang bermitra dengan China Tianying Inc. Konsorsium OASA memenangkan, proyek PSEL Tangsel pada April 2025. Bobby menegaskan, OASA akan melanjutkan proyek PSEL Tangsel melalui sejumlah penyesuaian yang sesuai dengan implementasi Perpres Nomor 109/2025. "Di Perpres yang baru sudah ada Pasal Peralihan, bahwa apabila sudah ada pemenang, bisa dialihkan ke skema baru. Tangsel sudah masuk untuk transisi," ujar Bobby. OASA masih melakukan pembahasan bersama Danantara terkait sejumlah penyesuaian di proyek PSEL Tangsel, termasuk mengenai porsi kepemilikan Danantara dalam proyek tersebut. "Kami belum bisa bicara apa-apa, karena ini lagi proses dan mendekati final. Jadi nanti biar Danantara yang mengumumkan," imbuh Bobby. Selain proyek PSEL Lampung Raya dan PSEL Tangsel, OASA juga memiliki proyek PSEL Jakarta. Bobby menjelaskan bahwa PSEL Jakarta sebenarnya merupakan proyek pertama WtE OASA yang telah didapat sejak tahun 2020.
Baca Juga: Bisnis Rental Mobil Tertekan, Permintaan Turun 5% di Semester I-2026 OASA menggandeng mitra dari Jerman, dengan target kapasitas mengolah sebanyak 2.000 ton sampah per hari untuk menghasilkan listrik sebesar 43 MW. Hanya saja, pembangunan proyek PSEL ini terganjal oleh berbagai faktor, seperti kelengkapan peraturan hingga skema tipping fee sesuai dengan Perpres sebelumnya. "Kalau (proyek PSEL) Jakarta, kami belum bisa bicara banyak. Saya sudah bicara dengan Pak Gub (Gubernur Jakarta) dan sebagainya. Sekarang lagi survei untuk lokasi yang paling tepat," kata Bobby.
Dampak PSEL Bagi Kinerja OASA
Bobby belum merinci kebutuhan investasi untuk ekspansi bisnis WtE serta pembangunan proyek PSEL yang akan dikerjakan oleh OASA. Bobby menekankan bahwa kebutuhan investasi untuk masing-masing proyek PSEL akan mengacu pada studi kelayakan atau Feasibility Study (FS) yang disusun oleh Danantara. Bobby hanya memberikan gambaran investasi yang dibutuhkan untuk membangun fasilitas PSEL dengan kapasitas pengolahan 1.000 ton bisa mencapai Rp 2 triliun - Rp 3 triliun. Meski perlu investasi jumbo, tapi Bobby meyakini proyek PSEL bakal menopang keberlanjutan kinerja OASA dalam jangka panjang. Apalagi, OASA bakal mengantongi pendapatan dari konstruksi hingga Operation and Maintenance (O&M). Bobby juga memberikan gambaran bahwa fasilitas PSEL dengan kapasitas 1.000 ton berpotensi menghasilkan pendapatan sekitar US$ 35 juta atau sekitar Rp 600 miliar per tahun.
Baca Juga: Motor Listrik Nasional Segera Meluncur, Begini Tanggapan AISI Dengan dukungan regulasi dan keterlibatan Danantara, Bobby meyakinkan bahwa bisnis PSEL ini akan menghasilkan margin yang menarik. Menurut Bobby, EBITDA Margin dari proyek PSEL ini bisa mencapai sekitar 70% dengan jangka waktu pengembalian investasi (
payback) di bawah tujuh tahun. "Rasanya ekosistem dalam persiapan proyek-proyek (PSEL) ini sudah oke, tinggal action-nya. Pengembangan WtE membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, sektor swasta, mitra teknologi, dan berbagai pemangku kepentingan. Perkembangan saat ini merupakan bagian dari upaya bersama mempercepat pembangunan fasilitas WtE di Indonesia," tandas Bobby. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News