Mahjong Jadi Gaya Hidup Baru Generasi Urban Pencari Ruang Sosial



KONTAN.CO.ID - ​LOS ANGELES. Di sebuah klub eksklusif di Beverly Hills, Los Angeles, denting ubin mahjong kini terdengar lebih nyaring daripada gelas anggur dan percakapan bisnis. Permainan tradisional asal China itu mendadak naik kelas: bukan lagi sekadar hiburan keluarga Asia, melainkan gaya hidup baru generasi muda urban dunia.

Dari Los Angeles, New York, London hingga Mumbai, mahjong sedang menikmati kebangkitan global. Acara komunitas bermunculan, klub sosial penuh antrean, hingga perusahaan mulai melihatnya sebagai ladang bisnis baru. Di tengah tekanan ekonomi, mahalnya biaya hiburan, dan kelelahan sosial pascapandemi, mahjong berubah menjadi “third place” ruang ketiga selain rumah dan kantor bagi generasi muda yang mencari koneksi sosial murah, santai, tetapi tetap terasa eksklusif.

Fenomena ini terlihat dari lonjakan minat publik. Mengutip Bloomberg (15/5), Data Eventbrite mencatat pencarian terkait mahjong melonjak 18 kali lipat sepanjang 2023–2025. Sementara jumlah acara bertema mahjong meningkat 45 kali lipat dibanding periode 2021–2025.


Permainan yang lahir di sekitar Shanghai pada pertengahan abad ke-19 itu kini tampil dengan wajah baru. Bar-bar di Los Angeles rutin menggelar malam mahjong mingguan. Aplikasi kencan Tinder bahkan sempat membuat acara “mahjong date night” di Chinatown Los Angeles. Klub sosial di New York menggandeng brand populer untuk membuat event bertema mahjong bagi kalangan muda perkotaan.

Bagi pelaku usaha hiburan dan komunitas, tren ini membuka ceruk ekonomi baru.

Finnegan Wong-Smith, penggagas komunitas Mahjong Underground di Los Angeles, awalnya hanya mencari cara bersosialisasi setelah pandemi Covid-19. Namun komunitas kecil itu berkembang pesat. Kini, sekitar 200 hingga 250 orang rutin datang setiap Senin malam untuk bermain mahjong di berbagai bar dan klub kota tersebut.

“Mencari aktivitas sosial sekarang sering membuat orang bingung memilih. Mahjong memberi orang ruang berkumpul rutin tanpa tekanan,” ujar Wong-Smith.

Di tengah naiknya biaya nongkrong, mahalnya konser, hingga kejenuhan terhadap interaksi digital, mahjong menawarkan hiburan analog yang relatif murah. Satu meja hanya membutuhkan empat orang, seperangkat ubin, dan waktu panjang untuk berbincang. Tidak heran, banyak bar dan kafe mulai melihat permainan ini sebagai cara efektif mendatangkan pelanggan lebih lama.

Baca Juga: Jam Tangan Mini, Warisan Lama yang Bersemi Kembali

Mahjong pun perlahan berkembang menjadi industri gaya hidup. Permintaan set permainan premium, meja khusus, aksesori, hingga kelas privat terus meningkat. Jennie Jethwani, pendiri Mahjong Master di Los Angeles, kini rutin mengajar mahjong di klub-klub elite seperti Gravitas dan Soho House, selain melayani kelas privat di rumah klien.

Permainan ini bahkan mulai masuk ke industri hiburan populer. Meghan Markle dan Julia Roberts disebut-sebut ikut memainkan mahjong. Film romantis Hallmark terbaru mengangkat tema permainan tersebut. Penyanyi Islandia Laufey juga memasukkan visual ubin mahjong ke video musiknya.

Namun di balik tren komersial itu, muncul pula perdebatan soal identitas budaya dan komersialisasi.

Nicole Wong, penulis buku Mahjong: House Rules from Across the Asian Diaspora, menilai kebangkitan mahjong membawa sisi positif sekaligus kekhawatiran. Banyak keluarga diaspora Asia melihat mahjong bukan sekadar permainan, melainkan bagian warisan budaya lintas generasi.

“Saya melihat sejarah mahjong seperti resep makanan keluarga. Diaspora justru sering menjaga tradisi itu lebih kuat dibanding tempat asalnya,” ujar Wong.

Kekhawatiran muncul ketika sejumlah perusahaan di Amerika Serikat menjual set mahjong premium dengan menghilangkan karakter China pada ubin permainan demi tampil lebih modern. Langkah itu sempat memicu kritik karena dianggap menghapus akar budaya permainan tersebut.

Meski demikian, para pengamat melihat tren mahjong kemungkinan tidak akan berhenti sebagai sekadar mode sesaat.

Sejarawan mahjong dari University of Oregon, Annelise Heinz, menilai popularitas permainan ini lahir dari kebutuhan sosial masyarakat modern yang semakin terfragmentasi. Menurut dia, mahjong menawarkan sesuatu yang mulai mahal di era digital: percakapan tatap muka dan rasa komunitas.

“Mahjong selalu menjadi cara kuat untuk membangun komunitas,” katanya.

Di tengah ekonomi global yang penuh tekanan, biaya hiburan yang makin mahal, serta meningkatnya rasa kesepian di kota-kota besar, mahjong tampaknya menemukan momentum barunya. Permainan kuno itu kini bukan hanya soal strategi dan keberuntungan, melainkan juga bisnis, identitas budaya, dan cara baru generasi urban mencari ruang untuk terhubung kembali.

Baca Juga: Cinta El Mencho Jadi Petunjuk, Gembong Narkoba Meksiko Tewas Ditembak

TAG: