Makin Agresif Ekspansi Non-Batubara, Begini Rekomendasi Saham UNTR dari Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT United Tractors Tbk (UNTR) tancap gas melanjutkan ekspansi memperluas portofolio bisnis non-batubara. Terbaru, UNTR kembali melebarkan sayap ke segmen panas bumi dengan rencana akuisisi terhadap PT Supreme Energy Rantau Dedap.

Perjanjian jual beli saham telah ditandatangani pada 1 Maret 2024 melalui anak usaha UNTR, PT Energia Prima Nusantara. Nilai transaksi diestimasikan mencapai US$ 80,69 juta atau setara dengan Rp 1,26 triliun.

Corporate Secretary United Tractors, Sara K. Loebis mengungkapkan timeline penyelesaian transaksi dijadwalkan pada tahun ini. Sara bilang, dana untuk merealisasikan akuisisi tersebut berasal dari fasilitas pinjaman perbankan yang sudah dimiliki UNTR.


Sara menyampaikan, rencana akuisisi Supreme Energy Rantau Dedap merupakan kelanjutan diversifikasi usaha UNTR. Sebagai strategi pertumbuhan berkesinambungan di bidang pembangkitan tenaga listrik dari sumber energi terbarukan.

Baca Juga: Cisarua Mountain (CMRY) Bukukan Kenaikan Kinerja pada 2023, Cek Rekomendasi Sahamnya

Dalam beberapa tahun terakhir, UNTR sedang getol menambah portofolio bisnis di luar segmen batubara. Terutama melalui strategi akuisisi pada perusahaan energi terbarukan serta penambangan & pengolahan nikel. Aksi ini demi menggenjot kontribusi pendapatan dari segmen bisnis non-batubara.

Sara mengungkapkan, saat ini kontribusi dari segmen yang terkait batubara (coal related) masih sekitar 70%. 

"Harapannya di 2030 nanti bisa seimbang. Untuk pertumbuhan bisnis ke depan, UNTR terbuka mempelajari prospek di bidang mineral dan energi terbarukan," kata Sara kepada Kontan.co.id, Kamis (7/3).

Meski begitu, untuk tahun ini UNTR tidak mengendurkan bisnis tambang. Buktinya, UNTR tetap mengucurkan belanja modal (capex) yang cukup jumbo, mencapai Rp 21 triliun. Sebagian besar atau sekitar Rp 18 triliun digunakan untuk pembelian alat berat di bisnis kontraktor tambang, guna mengganti peralatan yang sudah usang.

"Sisanya untuk perbaikan infrastruktur di tambang batubara dan emas. Untuk capex, dananya dari internal cash," imbuh Sara.

Pada tahun ini UNTR mengejar penjualan alat berat sebanyak 3.800 - 4.000 unit, penjualan 12 juta ton batubara, dan penjualan 235.000 Oz emas. Sedangkan dalam produksi kontraktor tambang, UNTR membidik kenaikan 5% untuk batubara dan pengupasan tanah.

Rekomendasi Saham

Sebagai informasi, sepanjang tahun lalu UNTR meraup pendapatan senilai Rp 128,58 triliun, tumbuh 4,03% dibandingkan raihan tahun 2022. Sedangkan secara bottom line, UNTR meraih laba bersih Rp 20,61 triliun, turun 1,85% dibandingkan keuntungan tahun 2022.

Jumlah liabilitas UNTR naik secara tahunan dari Rp 50,96 triliun menjadi Rp 69,99 triliun. Diikuti dengan kenaikan jumlah aset dari Rp 140,47 triliun menjadi Rp 154,02 triliun. Sementara posisi kas dan setara kas pada akhir tahun 2023 sebesar Rp 18,59 triliun, turun dari posisi Rp 38,28 triliun pada tahun 2022.

 
UNTR Chart by TradingView

Baca Juga: Harga Saham Emiten Teknologi Sempat Naik, Simak Rekomendasi Sahamnya

Research Analyst Reliance Sekuritas Indonesia, Ayu Dian menilai ekspansi yang dilakukan UNTR khususnya pada industri energi terbarukan dan mineral belum berdampak signifikan bagi kontribusi pendapatan UNTR saat ini. Kontribusi terbesar bakal tetap datang dari penjualan alat berat dan kontraktor pertambangan.

Dus, kinerja UNTR masih sensitif terhadap harga komoditas dan permintaan pada industri pertambangan. 

"Namun secara jangka panjang diversifikasi ini akan berdampak baik terhadap kinerja ditengah fokus perusahaan untuk ekspansi ke bisnis energi terbarukan," kata Ayu.

Ayu menyoroti kenaikan liabilitas UNTR pada tahun lalu sebagai akibat dari pinjaman bank, sehingga berdampak pada kenaikan beban keuangan. Meski begitu, Ayu menilai fundamental UNTR masih cukup kuat dengan rasio solvabilitas yang masih cukup sehat.

Editor: Tendi Mahadi