Mal Generasi Baru Akan Segera Hadir, Tawarkan Sport & Wellness Center di Rooftop



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lanskap ritel di kawasan urban Indonesia diproyeksikan terus berevolusi hingga 2026. Namun, pertumbuhan ritel ke depan tidak lagi semata bertumpu pada aktivitas jual beli, melainkan bergeser menjadi ruang sosial, rekreasi, dan gaya hidup masyarakat perkotaan.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat, menuturkan bahwa ekspansi ritel di kawasan urban masih berlanjut seiring pertumbuhan kota. Kendati demikian, format dan fungsinya mengalami perubahan signifikan. “Retail di urban area masih berkembang dan tetap ekspansi, tapi bentuknya sudah berbeda. Fokusnya bukan lagi full physical retail seperti dulu,” ujarnya, Jumat (23/1).

Syarifah menjelaskan bahwa perubahan perilaku konsumen menjadi pendorong utama transformasi ritel. Aktivitas belanja yang lebih efisien dan ekonomis kini banyak beralih ke platform daring, sehingga masyarakat tidak lagi merasa perlu datang ke mal hanya untuk membeli barang. Konsumen justru mencari pusat perbelanjaan yang menawarkan ruang untuk berkumpul, berinteraksi, dan memperoleh pengalaman.


Baca Juga: Dongkrak Okupansi, Pengembang Mal Pilih Renovasi dan Rebranding Ketimbang Bangun Baru

Kondisi tersebut mendorong berkembangnya konsep lifestyle retail, di mana pusat perbelanjaan bertransformasi menjadi ruang interaksi sosial. Konsep seperti alfresco dining yang sebelumnya hadir dalam skala terbatas kini berkembang menjadi area yang lebih luas dan terintegrasi.

Lebih lanjut, Syarifah menilai tren tersebut berkaitan erat dengan pola hidup masyarakat urban yang memiliki rutinitas kerja padat, sehingga membutuhkan ruang untuk relaksasi dan healing. 

Salah satu tren paling menonjol menuju 2026 adalah masuknya konsep wellness ke dalam ruang ritel. Kesehatan pun tidak lagi sekadar kebutuhan, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup, tercermin dari semakin banyaknya pusat perbelanjaan yang menghadirkan fasilitas spa, studio yoga dan pilates, hingga berbagai aktivitas kebugaran seperti pickleball dan bowling.

Selain wellness, hobi dan leisure juga menjadi titik penetrasi baru bagi pengembangan ritel. Kehadiran ruang komunitas dan aktivitas minat khusus menjadikan ritel berfungsi sebagai pusat aktivitas sosial, bukan sekadar destinasi belanja.

Baca Juga: Bekasi Jadi Magnet Baru Orang Tajir, Rumah Super Mewah Summarecon Laku Keras

Sejalan dengan itu, riset BCA Indonesia Economic Outlook 2026 mencatat konsumsi rumah tangga Indonesia diproyeksikan tetap resilien berkat dukungan kebijakan. Namun, ketidakpastian global dan faktor struktural rumah tangga membuat konsumen semakin selektif, mendorong strategi value-for-money, promosi yang lebih presisi, serta format ritel berbasis pengalaman.

Menjawab tren tersebut, Summarecon Mall Bekasi (SMB) Phase 2 akan resmi dibuka pada 4 Februari mendatang. Terintegrasi dengan SMB Tahap 1 melalui Lobby The Oval, pengembangan ini mengusung konsep One-Stop Solution dengan semangat Workout, Shop, Eat, Repeat.

SMB Phase 2 menyasar segmen keluarga, profesional muda, hingga komunitas aktif, dengan desain interior yang lebih modern serta kehadiran tenant lifestyle, sporty, dan food & beverage (F&B).

Manajemen Summarecon Bekasi menyebut, sejumlah merek fesyen seperti Coach, Christy Ng, dan Maison Margiela hadir, sementara brand olahraga berkonsep wellness seperti HOKA, Anta, Salomon, hingga Sports Direct untuk pertama kalinya masuk ke Bekasi.

Di sisi kuliner, tenant seperti Teras Plataran, Hotspot by Haidilao, dan Strada Coffee memperkuat posisi SMB sebagai destinasi hangout dan social hub di Bekasi.

Baca Juga: Di Usia 50 Tahun, Summarecon Tetap Adaptif dan Berprestasi

Keunikan SMB Phase 2 juga ditopang oleh kehadiran rooftop Sport & Wellness Center bernama Wellground, yang menawarkan fasilitas lengkap mulai dari kolam renang ukuran olimpiade, lapangan olahraga indoor, gym premium NXT FIT, hingga Juvia Wellness & Spa.

Dari sisi kinerja keuangan, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatat recurring income sekitar Rp2,45 triliun sepanjang Januari–September 2025, meningkat dari Rp 2,30 triliun pada periode yang sama tahun 2024. Pendapatan berulang tersebut berasal dari segmen investment property, leisure & hospitality, serta lainnya, mencerminkan pertumbuhan yang stabil dan memperkuat kualitas pendapatan SMRA di luar penjualan properti.

Selanjutnya: Teguran MSCI Diharapkan Jadi Titik Balik Transparansi di Pasar Modal Indonesia

Menarik Dibaca: 5 Cara Lepas Krim Dokter Tanpa Menyebabkan Breakout, Enggak Perlu Takut Lagi!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News