Malaysia Batasi Pembelian BBM RON 95 Mulai Pekan Depan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Malaysia akan mulai membatasi penggunaan kartu kredit dan debit asing untuk pembelian bahan bakar RON95 di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mulai pekan depan.

Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Biaya Hidup Malaysia menyatakan, kebijakan itu akan diterapkan secara bertahap di seluruh SPBU, dengan sistem yang secara otomatis menyaring transaksi menggunakan kartu asing di mesin pengisian mulai 1 April 2026.

Direktur Jenderal Penegakan kementerian tersebut, Datuk Azman Adam, mengatakan sejumlah perusahaan minyak telah siap menerapkan mekanisme baru tersebut.


“Setelah 1 April, sistem akan secara otomatis memfilter transaksi,” ujar Azman dikutip dari Strait Times, Sabtu malam (28/3/2026).

Baca Juga: Negara Anggota Sulit Sepakat, Perundingan WTO Soal Moratorium E-Commerce Buntu

Meski demikian, pengguna kartu asing masih diperbolehkan melakukan pembayaran, namun hanya melalui transaksi di kasir SPBU, bukan langsung di pompa pengisian.

Menurut Azman, kebijakan ini bertujuan mempermudah pengawasan oleh operator SPBU dan otoritas terkait, sekaligus memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.

“Langkah ini bertujuan untuk mempermudah pemantauan oleh operator SPBU dan otoritas penegak hukum, sekaligus memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku,” paparnya.

Selain itu, langkah ini juga diharapkan dapat memperkuat pengawasan serta mencegah potensi penyalahgunaan bahan bakar RON 95.

“Pendekatan ini juga akan memperkuat penegakan aturan serta mencegah potensi penyalahgunaan RON 95,” tambahnya.

Harga minyak dunia ditutup pada level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun pada Jumat (27/3/2026) waktu setempat, di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan di Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak dunia terjadi meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengalihkan pendekatan ke jalur negosiasi dengan Iran, yang dinilai belum mampu meredakan kekhawatiran pasar.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (28/3/2026), harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 5,46 persen menjadi 99,64 dollar AS per barrel.

Sementara itu, harga minyak acuan global Brent menguat 4,22 persen ke level 112,57 dollar AS per barrel.

Baca Juga: Gelombang Protes “No Kings” Meluas di AS, Kritik Kebijakan Trump Menguat

Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak Juli 2022, ketika invasi Rusia ke Ukraina mengguncang pasar energi global. Sepanjang sesi perdagangan, harga minyak AS sempat menyentuh level tertinggi harian di 100,04 dollar AS per barrel sebelum terkoreksi tipis. Secara mingguan, kontrak WTI naik sekitar 1 persen, sedangkan Brent relatif stagnan.

Langkah Trump memberikan perpanjangan waktu 10 hari kepada Iran untuk membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz belum mampu meredakan kekhawatiran pasar.

Dalam unggahan media sosial pada Kamis (26/3/2026), Trump mengatakan bahwa pembicaraan dengan Iran berjalan sangat baik.

Ia menyebut pembicaraan tersebut berlangsung positif, “meskipun ada pernyataan keliru yang bertentangan dari Media Berita Palsu, dan pihak lain.”

Sebagai bagian dari kebijakan tersebut, Trump juga menyatakan akan menghentikan sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga 6 April 2027 mendatang.

Namun, hingga kini Iran belum memberikan tanggapan atas pernyataan terbaru tersebut.

Di sisi lain, dinamika di lapangan menunjukkan situasi yang masih belum stabil. Dua kapal kontainer milik China Ocean Shipping Company (COSCO) dilaporkan mencoba melintasi Selat Hormuz, tetapi akhirnya berbalik arah, menurut data perusahaan pelacakan kapal MarineTraffic.

Peristiwa tersebut menjadi upaya pertama dari perusahaan pelayaran besar untuk melintasi jalur tersebut sejak konflik berlangsung.

COSCO sendiri merupakan perusahaan pelayaran terbesar keempat di dunia berdasarkan kapasitas. Dalam pernyataannya, MarineTraffic menyebut bahwa “perkembangan semalam menunjukkan bahwa situasi di Selat Hormuz tetap sangat tidak stabil.”

Baca Juga: Serangan Houthi ke Israel Picu Risiko Perluasan Perang Iran, AS Tambah Pasukan

Dalam rapat kabinet pada Kamis, Trump juga mengatakan Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz pekan ini sebagai “hadiah” bagi AS. Pasar saat ini terus memantau perkembangan di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia.

Ketegangan antara Washington dan Teheran dinilai masih menjadi faktor utama yang memicu volatilitas harga energi. Pernyataan Trump yang menyebut adanya kapal tanker yang berhasil melintas memberikan sinyal bahwa sebagian pengiriman minyak masih berlangsung, sehingga berpotensi meredakan kekhawatiran pasokan dalam jangka pendek.

Meski demikian, analis mengingatkan bahwa kondisi pasar minyak global masih rapuh. Kepala analis minyak Rystad Energy, Paola Rodriguez-Masiu, mengatakan pasar sebenarnya telah mampu menyerap gangguan yang terjadi di Selat Hormuz dalam beberapa pekan terakhir.

“Pasar minyak tidak bereaksi secara berlebihan terhadap gangguan di Selat Hormuz, justru pasar menyerapnya,” ujar Rodriguez-Masiu.

“Selama hampir empat minggu, pasar telah menunjukkan ketahanan yang luar biasa, didukung oleh kombinasi surplus pra-perang, minyak mentah yang masih dalam perjalanan, dan pasokan minyak berdasarkan kebijakan yang memberikan penyangga sementara dan menjaga harga tetap terkendali. Fase itu sekarang berakhir," imbuh dia.