Malaysia Turunkan Harga Referensi CPO Juli, Bea Keluar Tetap 10%



KONTAN.CO.ID - Pemerintah Malaysia menurunkan harga referensi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) untuk periode Juli 2026. Meski demikian, tarif bea keluar (export duty) CPO tetap dipertahankan sebesar 10%.

Berdasarkan surat edaran yang dipublikasikan di situs resmi Malaysian Palm Oil Board pada Senin (15/6/2026), harga referensi CPO Malaysia untuk Juli ditetapkan sebesar 4.346,79 ringgit per ton atau sekitar US$ 1.074,61 per ton.

Baca Juga: Indeks KOSPI Korsel Melejit 5% Senin (15/6), Saham Samsung dan SK Hynix Jadi Bintang


Angka tersebut lebih rendah dibandingkan harga referensi CPO pada Juni 2026 yang berada di level 4.372,64 ringgit per ton.

Meskipun terjadi penurunan, harga referensi tersebut masih berada di atas ambang batas yang dikenakan tarif ekspor maksimum, sehingga bea keluar CPO Malaysia tetap sebesar 10%.

Sebagai produsen dan eksportir minyak sawit terbesar kedua di dunia setelah Indonesia, Malaysia menerapkan struktur tarif progresif untuk ekspor CPO.

Dalam skema tersebut, tarif ekspor mulai dikenakan sebesar 3% ketika harga CPO berada pada kisaran 2.250 ringgit hingga 2.400 ringgit per ton.

Baca Juga: Damai AS-Iran Picu Euforia, Nikkei Jepang Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

Sementara itu, tarif ekspor maksimum sebesar 10% berlaku apabila harga referensi CPO melampaui 4.050 ringgit per ton.

Dengan harga referensi Juli yang masih berada jauh di atas batas tersebut, eksportir minyak sawit Malaysia akan tetap dikenakan bea keluar tertinggi pada bulan depan.

Kebijakan ini menjadi salah satu instrumen pemerintah Malaysia dalam mengatur penerimaan negara dari sektor sawit sekaligus menjaga stabilitas industri minyak nabati yang memiliki peran penting dalam perekonomian negara tersebut.