MAMI: Prospek Pasar Keuangan Mulai Membaik, Investor Tunggu Konsistensi Kebijakan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek pasar keuangan domestik mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan seiring langkah pemerintah melakukan rekalibrasi kebijakan serta sikap Bank Indonesia (BI) yang semakin agresif menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu konsistensi implementasi kebijakan sebelum kepercayaan investor benar-benar pulih.

Baca Juga: Inilah 10 Unitlink Saham yang Mencetak Return Tertinggi per Juni 2026


Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Freddy Tedja mengatakan, pasar saham, obligasi, dan nilai tukar rupiah masih dibayangi volatilitas tinggi.

Namun, sejak Juni 2026 pemerintah mulai mengirimkan sinyal kebijakan yang dinilai lebih ramah terhadap pasar.

Beberapa kebijakan yang menjadi sorotan antara lain penurunan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengurangan target pembentukan Koperasi Desa dari 80.000 menjadi 40.000 unit, pembatalan rencana skema bagi hasil minerba, serta penegasan peran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam wacana ekspor satu pintu.

"Pada Maret lalu pemerintah juga menegaskan komitmennya menjaga defisit fiskal tetap di bawah 3% terhadap PDB. Dari sisi moneter, BI memperkuat prioritas stabilitas rupiah melalui kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin pada Juni, termasuk kenaikan 25 basis poin dalam rapat di luar jadwal biasa," ujar Freddy dalam riset yang diterima Kontan.co.id, Rabu (8/7/2026).

Baca Juga: Satgas PASTI Hentikan 951 Pinjol Ilegal dan 238 Investasi Ilegal per Juni 2026

Menurut Freddy, langkah tersebut penting untuk menjaga kredibilitas dan independensi BI sekaligus meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik.

Bahkan, MAMI memperkirakan BI Rate masih berpotensi kembali naik hingga akhir 2026 apabila tekanan terhadap stabilitas rupiah masih berlanjut.

Ia menilai kebijakan yang berorientasi pada stabilitas mulai memberikan dampak terhadap pergerakan rupiah.

Setelah sempat mengalami tekanan, nilai tukar rupiah bergerak lebih stabil sepanjang Juni. Stabilitas tersebut juga didukung meredanya kebutuhan valas untuk pembayaran dividen serta berakhirnya musim haji.

Meski begitu, Freddy mengingatkan bahwa pergerakan rupiah masih rentan terhadap berbagai faktor eksternal maupun domestik.

Baca Juga: Begini Respons OJK Soal Putusan MK Terkait Pencairan Dana Pensiun Sukarela

Pasar masih mencermati perkembangan geopolitik, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), evaluasi peringkat utang Indonesia oleh S&P Global Ratings pada Juli–Agustus, hingga konsistensi pemerintah dalam menjalankan kebijakan fiskal.

"Jika seluruh faktor tersebut menunjukkan perkembangan positif, MAMI memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat berada di kisaran Rp 17.500 pada akhir 2026," ujarnya.

Di sisi lain, Freddy melihat ekonomi domestik mulai menghadapi tantangan yang lebih besar pada kuartal II-2026.

Hal itu tercermin dari inflasi yang mencapai 1,79% secara year to date (YTD) hingga akhir Juni, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1,38%.

Selain itu, penjualan ritel mengalami kontraksi selama dua bulan berturut-turut, masing-masing turun 3,7% pada April dan 3,2% pada Mei.

Baca Juga: BTN Perkuat Transformasi Selaras Danantara, Kinerja Lampaui Rata-Rata Perbankan

Perlambatan konsumsi juga tercermin pada aktivitas manufaktur, dengan indeks PMI manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni, menjadi yang terendah sejak Juni 2025.

Merespons kondisi tersebut, pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi semester II-2026 senilai Rp 26,34 triliun yang mencakup bantuan pangan, insentif transportasi, serta program magang dan vokasi.

Sementara itu, dari sisi pasar obligasi, Freddy menilai valuasi surat berharga negara (SBN) saat ini sudah cukup menarik.

Hingga akhir Juni, selisih imbal hasil (spread) obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun terhadap US Treasury tenor serupa mencapai 273 basis poin, lebih lebar dibandingkan rata-rata satu tahun terakhir sekitar 220 basis poin.

Meski demikian, menurutnya investor masih menunggu kepastian mengenai stabilitas rupiah, arah BI Rate, serta konsistensi disiplin fiskal pemerintah. Ia menambahkan, meredanya ketegangan geopolitik dan normalisasi harga minyak dunia dapat menjadi katalis positif bagi perbaikan sentimen pasar keuangan domestik.

Untuk strategi investasi, Freddy menyarankan investor tetap menerapkan pendekatan yang selektif dan disiplin dalam mengalokasikan portofolio.

Baca Juga: OJK Tuntaskan 184 Perkara hingga Semester I 2026, Kasus Perbankan Mendominasi

Menurutnya, kenaikan imbal hasil obligasi membuka peluang akumulasi secara bertahap, terutama apabila stabilitas rupiah tetap terjaga.

Sementara di pasar saham, investor sebaiknya lebih mengutamakan emiten dengan fundamental yang kuat dibanding sekadar mengejar valuasi murah.

Freddy juga menilai tema-tema struktural seperti rantai pasok kecerdasan buatan (AI) dan industri semikonduktor di kawasan Asia masih menawarkan prospek pertumbuhan jangka panjang.

Meski demikian, ia menegaskan setiap keputusan investasi tetap harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor serta dievaluasi secara berkala.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News