Mampu Menguat Usai Pengumuman MSCI, Bagaimana Nasib IHSG Sampai Akhir Juni 2026?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Usai pengumuman terbaru dari MSCI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 0,078% ke level 6.177,14 pada penutupan perdagangan Jumat (19/6), setelah sempat bergerak volatil dengan kecenderungan melemah.

Berdasarkan tinjauan aksesibilitas pasar global yang dirilis MSCI pada Kamis (18/6), Indonesia mengalami penurunan level pada kriteria arus informasi dari positif menjadi negatif. Keputusan MSCI tersebut mencerminkan kurangnya keterbukaan data kepemilikan serta aktivitas pasar yang dinilai menghambat pembentukan harga yang wajar dan membatasi kemampuan investor global menilai free float saham secara akurat.

MSCI juga menyoroti bahwa Indonesia masih menghadapi keterbatasan pada pasar valuta asing, termasuk tidak adanya pasar offshore yang efisien serta pembatasan pada pasar onshore.


Baca Juga: Bursa Global Memerah Jumat (19/6), Perundingan AS-Iran Tertunda dan Yen Kian Tertekan

Terlepas dari itu, Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasardana Hans Kwee mengatakan, sebenarnya sebagian besar indikator aksesibilitas pasar saham Indonesia yang dinilai MSCI tetap positif dan tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Indonesia pun berpeluang besar mempertahankan statusnya sebagai emerging market saat keputusan final dari MSCI pada 23 Juni 2026.

Volatilitas yang sempat terjadi pada awal dan pertengahan perdagangan hari ini pun lebih banyak dipengaruhi oleh aksi ambil untung (profit taking) setelah reli kuat yang dialami IHSG beberapa hari sebelumnya.

“Prospek IHSG saat ini masih relatif konstruktif meski pasar sedang mengalami fase konsolidasi,” ujar dia, Jumat (19/6).

Dari sisi eksternal, pasar global juga berada dalam fase konsolidasi setelah euforia meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah. Investor kini lebih fokus pada dampak lanjutan terkait pasokan energi, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi global.

Sikap The Fed yang masih mempertahankan peluang suku bunga acuan juga menjadi faktor yang menekan investor terhadap aset investor, termasuk pasar saham emerging market.

Sedangkan dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75% turut menahan laju penguatan IHSG, apalagi BI berpotensi melanjutkan kebijakan tersebut demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Tren suku bunga acuan tinggi membuat investor cenderung berhati-hati terhadap pasar saham dan berpotensi migrasi ke instrumen pendapatan tetap.

“Namun, fundamental ekonomi Indonesia masih solid dan itu bisa menjadi penopang utama bagi pasar saham,” tutur dia.

Dalam jangka pendek atau sampai akhir Juni 2026, Hans Kwee memperkirakan IHSG akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan proyeksi level di kisaran 6.200—6.500. Setelah mengalami kenaikan yang cukup tajam dalam beberapa hari terakhir, pasar tentu membutuhkan waktu untuk mencerna beragam sentimen yang ada sebelum menentukan arah selanjutnya. Alhasil, potensi penguatan IHSG masih terbuka, namun kemungkinan besar tidak akan berlangsung secara agresif dalam waktu dekat.

Bagi investor, Hans Kwee menilai saham-saham perbankan seperti BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI dapat menjadi pilihan utama lantaran memiliki struktur pendanaan yang kuat dan relatif lebih tahan terhadap efek kenaikan suku bunga acuan. Di samping itu, emiten-emiten pertambangan emas juga cukup menarik mengingat status emas sebagai aset lindung nilai di tengah risiko ketidakpastian global.

Di sisi lain, Hans Kwee mengingatkan investor bahwa saham-saham dari sektor properti dan multifinance cukup sensitif terhadap perubahan suku bunga acuan. Sebab, tingginya suku bunga acuan dapat memengaruhi permintaan pembiayaan rumah ataupun kendaraan bermotor.

Baca Juga: Transformasi Bisnis BEEF Berpotensi Dongkrak Kinerja, Cek Rekomendasi Sahamnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News