Manajemen Danamon Akui Pembatasan Valas BI Mulai Berdampak ke Transaksi Bank



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) mengakui kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam memperketat aturan main pembelian valuta asing (valas) berdampak terhadap tren transaksi di perbankan. Hanya saja, dampaknya relatif terbatas. 

Mengingatkan kembali, BI menurunkan batas pembelian valas tanpa dokumen underlying dari US$ 25.000 menjadi US$ 10.000 per bulan demi menjaga stabilitas rupiah.

Penurunan ini menjadi yang ketiga kalinya sejak awal tahun, dan telah berlaku sejak Juni 2026.


Consumer Funding & Wealth Business Head, Bank Danamon, Ivan Jaya, mengungkapkan, penurunan batas pembelian valas memengaruhi aktivitas transaksi.

Baca Juga: Bank Danamon Perluas Akses Pendanaan Startup Lewat Kolaborasi ASEAN-Jepang

Namun, langkah tersebut sejatinya perlu diambil bank sentral demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Namun kami juga percaya bahwa langkah ini perlu dilakukan pemerintah untuk menjaga nilai tukar kita agar tetap stabil," ujar Ivan saat ditemui, Selasa (14/7/2026). 

Ia memaparkan, secara umum transaksi pembelian valas nasabah Danamon dilakukan untuk kebutuhan perjalanan, yang mana rata-rata nilainya masih berkisar US$ 4.000 hingga US$ 5.000 per transaksi.

 
BDMN Chart by TradingView

Nilai tersebut masih jauh di bawah batas baru yang ditetapkan BI.

"Kalau kita melihat ticket size untuk bertransaksi, misalnya untuk liburan ataupun bepergian, kebutuhannya sekitar US$ 4.000 sampai US$ 5.000 sekali transaksi. Jadi saya rasa itu masih dalam batas yang wajar," katanya.

Baca Juga: Bank Danamon Jaga NPL KPR di Tengah Kenaikan BI Rate

Lagipula secara keseluruhan, Ivan bilang secara tren volume transaksi valas di Danamon masih menunjukkan pertumbuhan. Dibandingkan tahun lalu, saat ini volume transaksi meningkat sekitar 25% hingga 30%.

Sementara itu, dana valas yang mengendap di Danamon juga mencatat kenaikan lebih tinggi, yakni sebesar 52% secara tahunan.

Di sisi pendapatan, Danamon tetap optimistis bisnis foreign exchange mampu menopang pertumbuhan fee based income. "Tren ini sebenarnya sudah dari 2023 ke 2024 dan diteruskan sampai sekarang.

CAGR-nya berkisar antara 35% sampai 40% setiap tahun," tukasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News