Manajer investasi pangkas porsi deposito



JAKARTA. Pelaku manajer investasi berlomba-lomba mengecilkan porsi deposito dalam produk reksadana pasar uang. Strategi ini menyusul tindakan Bank Indonesia (BI) yang memangkas suku bunga menjadi 6,5% pekan lalu.

Rapat Dewan Gubernur BI pada 15 Juni 2016 - 16 Juni 2016 memutuskan untuk menurunkan suku bunga sebesar 25 bps dari posisi semula 6,75%. Ini merupakan keempat kalinya BI rate dipangkas sepanjang tahun 2016.

Selain itu, suku bunga deposit facility juga menyusut sebesar 25 bps menjadi 4,5% dan lending facility juga turun sebesar 25 bps menjadi 7%.


Kemudian, BI juga memangkas BI seven days reverse repo rate sebanyak 25 bps dari semula 5,5% menjadi sebesar 5,25%. Langkah ini sejalan dengan rencana reformulasi suku bunga kebijakan yang telah diumumkan pada 15 April 2016.

Investment Director PT Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana berujar, pemangkasan BI rate memicu tren penurunan suku bunga deposito perbankan.

Walhasil, guna memaksimalkan imbal hasil (return) reksadana pasar uang, perusahaan menyeret porsi deposito dari semula 10% - 15% menjadi 5%. Sisanya berupa obligasi korporasi bertenor kurang dari setahun dari emiten sektor infrastruktur dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sebab, surat utang jenis ini diterawang bakal berprospek cerah di tengah program pembangunan infrastruktur pemerintah.

"Di setiap fund kita, deposito hanya 5%," imbuhnya.

Jemmy menduga, hingga akhir tahun 2016, masih ada ruang penurunan suku bunga acuan BI sebesar 25 bps lagi menjadi 6,25%. Dengan catatan, inflasi dalam negeri terjaga sesuai target yang dipatok 3% - 5%. Namun, Jemmy menuturkan, kecil peluang perusahaan bakal mengecilkan porsi deposito dalam produk mereka lagi di waktu mendatang.

"5% itu sudah maksimal, untuk redemption," tukasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie