Mandatori B50 Jadi Katalis Emiten CPO, Analis Soroti Potensi Kinerja dan Risiko



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Implementasi mandatori biodiesel 50% (B50) yang resmi berlaku per 1 Juli 2026 dinilai menjadi katalis positif bagi prospek kinerja emiten crude palm oil (CPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai kebijakan ini berpotensi menjadi pendorong permintaan struktural yang signifikan bagi industri sawit domestik.

“B50 bisa menjadi structural demand driver signifikan karena kenaikan mandatori dari B35 atau B40 ke B50 langsung mendorong konsumsi CPO domestik dan mengurangi ketergantungan ekspor yang rawan proteksionisme,” kata Wafi kepada Kontan, Rabu (1/7/2026).


Dengan proyeksi serapan domestik yang meningkat hingga 17,6 juta kiloliter dan estimasi nilai pasar mencapai Rp203 triliun-Rp219 triliun, kebijakan ini dinilai berpotensi mendongkrak kinerja emiten, terutama yang terintegrasi.

Baca Juga: Menilik Kinerja Emiten Sawit Kala Harga CPO Terus Menguat dan Rekomendasi Analis

Menurut Wafi, kontribusi terbesar akan dirasakan oleh emiten yang memiliki lini bisnis hilir seperti refinery dan pabrik biodiesel.

“Bisa signifikan mendorong revenue emiten terintegrasi. Kontribusi ke laba bersih tergantung subsidy gap, jika ditanggung pemerintah tepat waktu margin terjaga, tapi jika tidak ada risiko cashflow mismatch,” jelasnya.

Senada, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai implementasi B50 akan meningkatkan permintaan domestik dan menopang harga CPO di tengah ketidakpastian global.

“Implementasi B50 menjadi katalis positif bagi emiten CPO karena meningkatkan permintaan domestik, menopang harga CPO, dan membuat prospek pendapatan lebih stabil,” katanya.

Meski demikian, pelaku pasar dinilai masih menunggu realisasi implementasi kebijakan tersebut sebelum melakukan akumulasi lebih agresif.

“Bisa jadi katalis positif, tapi market butuh bukti implementasi lancar dulu, realisasi serapan riil dan kelancaran pembayaran subsidi. Re-rating butuh konfirmasi delivery di kuartal mendatang,” imbuh Wafi.

Baca Juga: Harga TBS Sawit Naik 10%, Emiten CPO Hadapi Tekanan Biaya Produksi

Selain kebijakan B50, sejumlah sentimen lain juga akan memengaruhi kinerja emiten CPO hingga akhir tahun, seperti pergerakan harga CPO global, kebijakan export levy dan domestic market obligation (DMO), serta faktor cuaca seperti El Nino dan La Nina.

Regulasi global seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR) juga berpotensi memengaruhi akses ekspor.

Dari sisi kinerja, Wafi memproyeksikan emiten yang terintegrasi dengan bisnis biodiesel berpeluang mencatat peningkatan laba pada paruh kedua 2026, selama implementasi berjalan lancar.

Sementara itu, emiten upstream murni dinilai akan lebih terbatas dampaknya karena masih sangat bergantung pada harga CPO global dan produktivitas.

Azis menambahkan, kinerja emiten CPO hingga akhir 2026 diperkirakan tetap solid, ditopang oleh peningkatan permintaan domestik, meski masih dibayangi volatilitas harga dan kenaikan biaya produksi.

“Kinerja emiten CPO hingga akhir 2026 diperkirakan tetap solid, didukung permintaan domestik yang meningkat,” ujarnya.

Untuk rekomendasi, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan beli saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dengan target harga Rp6.800 per saham dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dengan target Rp1.630 per saham.

Baca Juga: Pilihan Emiten CPO yang Menuai Berkah dari Implementasi B50

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: