Mandiri Capital Ungkap Faktor Penahan Penurunan Rasio BOPO Industri Modal Ventura



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Mandiri Capital Indonesia (MCI) menilai tingginya rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) industri modal ventura dipengaruhi oleh karakteristik bisnis penyertaan modal yang membuat pendapatan tidak tercatat secara rutin setiap bulan.

Direktur Utama Mandiri Capital Indonesia, Ronald S. Simorangkir mengatakan, sumber pendapatan perusahaan modal ventura korporasi (venture capital company/VCC) umumnya berasal dari realisasi investasi, dividen, maupun capital gain saat divestasi yang sifatnya tidak reguler.

“Pada model VCC, pendapatan operasional bersumber dari realisasi investasi, dividen maupun capital gain saat divestasi yang sifatnya episodik, bukan pendapatan rutin bulanan. Sementara beban operasional seperti SDM, due diligence, monitoring portofolio, tata kelola, dan kepatuhan berjalan terus-menerus,” ujar Ronald kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).


Baca Juga: OJK Beri Sejumlah Relaksasi Aturan untuk Industri PVML, Ini Rinciannya

Menurutnya, kondisi tersebut membuat rasio BOPO terlihat tinggi pada periode ketika belum ada realisasi investasi, meskipun fundamental portofolio investasi masih sehat.

Selain faktor struktural, Ronald menyebut tingginya BOPO juga dipengaruhi kondisi makro ekonomi. Lesunya iklim investasi pada perusahaan rintisan, terbatasnya peluang exit maupun IPO, serta suku bunga yang masih tinggi turut menekan valuasi dan memperpanjang periode realisasi investasi.

Di sisi lain, mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan industri modal ventura yang terkontraksi 0,87% secara tahunan per April 2026 turut menekan sisi pendapatan operasional industri.

Meski demikian, Ronald melihat ruang perbaikan BOPO industri mulai terbuka. Hal itu tercermin dari penurunan rasio BOPO industri modal ventura menjadi 97,63% per April 2026 dari 98,03% pada Maret 2026, menurut data OJK.

“Untuk Semester I-2026, kami melihat ruang perbaikan secara gradual. Namun perlu digarisbawahi, BOPO bukan ukuran yang ideal dibaca per bulan atau per kuartal untuk VCC,” katanya.

Baca Juga: OJK: Pembiayaan Modal Ventura Rp 16,35 Triliun Capai per April 2026

Untuk menjaga efisiensi, MCI menerapkan sejumlah strategi, antara lain disiplin biaya operasional, pemanfaatan sinergi dengan ekosistem Grup Bank Mandiri, digitalisasi proses bisnis dan penggunaan kecerdasan buatan (AI) guna meningkatkan produktivitas.

Selain itu, MCI juga fokus membangun portofolio investasi baru, mendiversifikasi sumber pendapatan, serta memperkuat tata kelola dan manajemen risiko guna menekan potensi penurunan nilai investasi.

Ronald menuturkan, dalam bisnis modal ventura, indikator kinerja yang lebih relevan dibanding BOPO adalah salah satunya tingjat pengembalian investasi atau internal rate of return (IRR).

Kendati demikian, MCI tetap menargetkan rasio BOPO dapat ditekan secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan. Sayangnya, ia tak merinci besaran rasio BOPO perusahaan.

“Kami menargetkan BOPO dapat ditekan secara berkelanjutan ke bawah 90% dalam jangka menengah, dan idealnya bergerak menuju kisaran 80% ketika siklus industri kembali normal,” tuturnya.

Baca Juga: BOPO Industri Modal Ventura Masih Berada di Level Tinggi, Capai 97,63% per April 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News