JAKARTA. PT Bank Mandiri Tbk masih mengerem penyaluran kredit ke segmen menengah. Pasalnya, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) pada kredit menengah tercatat naik atau mencapai 6,34% atau senilai Rp 10,31 triliun per September 2016. Hal ini dikarenakan debitur kelas menengah terkena imbas perlambatan ekonomi. Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Utama Bank Mandiri mengatakan, pihaknya masih akan terus memperbaiki kredit bermasalah pada kredit menengah serta mengurangi aliran kredit ke segmen ini dengan mengalihkan ke segmen korporasi dan konsumer. “Kami akan kembali masuk ke kredit menengah sekitar 1 tahun-2 tahun ke depan,” katanya, Rabu (23/11). Bank berpelat merah ini akan fokus pada pembiayaan kredit korporasi, kredit konsumer, dan kredit mikro untuk tahun 2017. Misalnya, untuk kredit korporasi ditargetkan akan tumbuh di atas 12%, sedangkan kredit konsumer ditargetkan akan mencapai 20% karena ada pelonggaran aturan loan to value (LTV) di kredit pemilikan rumah (KPR).
Mandiri kembali masuk ke kredit menengah di 2018
JAKARTA. PT Bank Mandiri Tbk masih mengerem penyaluran kredit ke segmen menengah. Pasalnya, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) pada kredit menengah tercatat naik atau mencapai 6,34% atau senilai Rp 10,31 triliun per September 2016. Hal ini dikarenakan debitur kelas menengah terkena imbas perlambatan ekonomi. Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Utama Bank Mandiri mengatakan, pihaknya masih akan terus memperbaiki kredit bermasalah pada kredit menengah serta mengurangi aliran kredit ke segmen ini dengan mengalihkan ke segmen korporasi dan konsumer. “Kami akan kembali masuk ke kredit menengah sekitar 1 tahun-2 tahun ke depan,” katanya, Rabu (23/11). Bank berpelat merah ini akan fokus pada pembiayaan kredit korporasi, kredit konsumer, dan kredit mikro untuk tahun 2017. Misalnya, untuk kredit korporasi ditargetkan akan tumbuh di atas 12%, sedangkan kredit konsumer ditargetkan akan mencapai 20% karena ada pelonggaran aturan loan to value (LTV) di kredit pemilikan rumah (KPR).