KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Tren belanja masyarakat menunjukkan perlambatan pada kuartal III-2026. Hal ini tercermin dari Mandiri Spending Index (MSI) yang mencatat pertumbuhan belanja sebesar 5,9% secara tahunan (
year on year/YoY), lebih rendah dibandingkan dua kuartal sebelumnya. Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, perlambatan konsumsi masyarakat berlanjut hingga akhir kuartal III-2026. Berdasarkan data MSI per 27 September 2026, indeks belanja masyarakat berada di level 122,9 pada minggu keempat September, turun 0,35% secara mingguan (week on week/WoW). Penurunan tersebut memperpanjang tren kontraksi MSI selama enam minggu berturut-turut. Level indeks saat ini juga setara dengan posisi pada akhir Mei 2026. Baca Juga: Revisi UU Transmigrasi Buka Peluang PNBP, Kepastian Lahan Jadi Kunci "Pertumbuhan belanja terus menurun dalam beberapa minggu terakhir. Pertumbuhan belanja September sebesar 5,5% YoY merupakan yang terendah sejak November 2025," ujar Andry kepada Kontan, Senin (12/10/2026). Menurut Andry, pola ini juga berbeda dari tahun 2025, ketika belanja mulai meningkat sejak awal September.
Secara bulanan, pertumbuhan belanja pada Agustus 2026 tercatat sebesar 6,5% YoY, sebelum melambat menjadi 5,5% pada September 2026. Sementara itu, pertumbuhan belanja pada kuartal III-2026 mencapai 5,9% YoY, lebih rendah dibandingkan dua kuartal sebelumnya, meski masih lebih tinggi daripada pertumbuhan pada kuartal III-2025 sebesar 5,4%.
Dari sisi wilayah, pertumbuhan belanja tertinggi tercatat di Sulawesi sebesar 7,7% YoY, diikuti Maluku dan Papua sebesar 7,5%, serta Kalimantan sebesar 6,9%. Adapun peningkatan pertumbuhan belanja terbesar dibandingkan tahun lalu terjadi di Bali, Nusa Tenggara, dan sekitarnya (Balnusra) sebesar 4,5 poin persentase (ppt), Maluku dan Papua sebesar 4,3 ppt, serta Jawa sebesar 3,5 ppt. Di tengah perlambatan tersebut, pola konsumsi masyarakat juga menunjukkan pergeseran ke belanja yang lebih selektif. Belanja untuk mobilitas tumbuh 6,6% YoY, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada 2025 sebesar 2,6%. Baca Juga: Revisi UU Transmigrasi Buka Peluang PNBP, Kepastian Lahan Jadi Kunci Belanja barang konsumsi (
consumer goods) juga meningkat dari 2,5% pada 2025 menjadi 4,4%, sedangkan belanja rumah tangga (household) berbalik tumbuh 1,8% setelah terkontraksi 0,8% pada tahun sebelumnya. Sebaliknya, belanja rekreasi (leisure) cenderung stagnan, berbeda dengan pertumbuhan sebesar 3,7% pada 2025. Kondisi ini mengindikasikan belanja masyarakat lebih terkonsentrasi pada kebutuhan rutin dan mobilitas, sementara pengeluaran untuk rekreasi masih terbatas.
Dari kelompok belanja kebutuhan sehari-hari, supermarket mencatat pertumbuhan 4,5% YoY, berbalik dari kontraksi 0,6% pada 2025. Belanja fesyen juga meningkat menjadi 3,1% dari 2,4%. Sementara belanja restoran tumbuh 4,7% YoY. Meski masih mencatatkan pertumbuhan tertinggi di antara sejumlah kategori yang dipantau, angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada tahun lalu sebesar 6,1%.
Pada kategori mobilitas, belanja otomotif tumbuh 6,3% YoY dan bensin sebesar 7,1%. Keduanya lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada 2025, masing-masing sebesar 4,6% dan 6,5%. Namun, pertumbuhan belanja transportasi melambat menjadi 10% dari 13,7% pada tahun sebelumnya. Sementara itu, belanja tiket pesawat (airlines) stagnan, setelah pada 2025 masih tumbuh 0,5%. Kondisi Keuangan Kelompok Kelas Bawah Tertekan
Di sisi lain, kondisi keuangan kelompok masyarakat bawah juga menunjukkan tekanan. Berdasarkan Mandiri Saving Index per 27 September 2026, indeks tabungan kelompok bawah turun menjadi 68,7 atau terkoreksi 1,1% secara bulanan (month on month/MoM). "Mandiri Saving Index kelompok bawah menurun ke 687,1 atau terkoreksi 1,1% MoM, melanjutkan penurunan dan menjadi level terendah saat ini," ujar Andry.
Baca Juga: Prabowo Jamu Presiden Mesir El-Sisi, Perkuat Kerja Sama Bilateral Sebaliknya, indeks tabungan kelompok menengah relatif stabil di level 100,5, turun tipis 0,1% MoM. Adapun indeks tabungan kelompok atas meningkat menjadi 95,1, lebih tinggi dibandingkan posisi pada tahun lalu sebesar 94,0. Perbedaan perkembangan tabungan tersebut menunjukkan kondisi keuangan masyarakat belum merata. Penurunan indeks tabungan kelompok bawah di tengah perlambatan pertumbuhan belanja menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati dalam melihat daya beli masyarakat pada paruh kedua 2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News