Laiknya budidaya manggis, budidaya manggis saburai tidak terlalu sulit. Bibit pohon manggis ini bisa diperoleh dari benih atau penyetekan. Yang butuh perhatian adalah jarak tanam, pemupukan dengan pupuk organik. Meski relatif mudah, manggis saburai terbilang tanaman buah yang rentan penyakit. Budidaya manggis saburai di Kecamatan Kotaagung Timur, Tanggamus, Provinsi Lampung sejatinya telah dilakukan para petani sejak tahun 2000 silam. Namun baru menjadi perhatian pemerintah daerah setempat pada 2008. Sejak saat itulah, Kabupaten Tanggamus dijadikan sentra budidaya manggis saburai.Tak sulit membudidayakan manggis jenis ini. Bisa menggunakan benih atau penyetekan. Pada awal penanaman, benih manggis harus disemai di pot. Usahakan tak terkena sinar matahari secara langsung. "Tanaman ini hanya bisa ditanam pada ketinggian tanah 0-800 meter di atas permukaan laut," ujar Joko Prabowo, Kepala Unit Pelaksana Teknis Pertanian Tanggamus.Setelah bibit berusia tiga tahun, penanaman pohon dilakukan dengan jarak antar tanaman 10 meter. Gali lubang sedalam 50 cm lalu dan diamkan selama dua minggu. Selanjutnya masukkan bibit dan tutup dengan tanah yang sudah diberi pupuk organik. Pemberian pupuk tersebut tergantung dengan tingkat kesuburan tanah di sana.Zubaidi, pembudidaya manggis saburai asal Tanggamus bilang, pemupukan kembali dilakukan setelah satu bulan pasca penanaman. Selanjutnya, pemberian pupuk dilakukan enam bulan sekali. "Sebaiknya tanam ketika musim hujan. Sebab bibit usia tiga tahun rentan penyakit," katanya.Jika pohon sudah berbuah, pembudidaya juga harus waspada dengan serangan tupai yang suka memakan buah manggis. "Jelang panen, para petani di Lampung biasanya berjaga-jaga di areal lahan manggis," tutur Zubaidi.Pada awal-awal panen, buah yang dihasilkan setiap pohon manggis tidak terlalu banyak. Pada usia tujuh tahun, satu pohon manggis saburai hanya menghasilkan 30 kilogram buah. Namun, jika pohon sudah berumur di atas 30 tahun, jumlah buah yang dihasilkan lebih dari 1 kuintal sekali panen. Menurutnya, ciri khas manggis saburai yang telah masak bisa dilihat dari perubahan warna, dari hijau menjadi kuning kecokelat-cokelatan. Adapun perbedaan manggis saburai dengan manggis lain, terletak pada diameter manggis saburai yang bisa mencapai 6 centimeter (cm) dan memiliki kulit tebal. Dus, manggis saburai cocok untuk ekspor karena tidak mudah rusak.Makanya, harga bibit berusia tiga tahun cukup mahal, berkisar Rp 10.000-Rp 30.000 per batang dengan tinggi 50 cm - 70 cm. Karena menggiurkan, saat ini sekitar 300 kepala keluarga di Kotaagung, tidak lagi menggantungkan pendapatan dari menanam padi. "Sekarang mereka bisa menjual bibit dan juga buah manggis saburai. Permintaan datang dari Kalimantan dan ekspor," kata Zubaidi. (Selesai)Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Manggis saburai melenggang ke pasar ekspor (2)
Laiknya budidaya manggis, budidaya manggis saburai tidak terlalu sulit. Bibit pohon manggis ini bisa diperoleh dari benih atau penyetekan. Yang butuh perhatian adalah jarak tanam, pemupukan dengan pupuk organik. Meski relatif mudah, manggis saburai terbilang tanaman buah yang rentan penyakit. Budidaya manggis saburai di Kecamatan Kotaagung Timur, Tanggamus, Provinsi Lampung sejatinya telah dilakukan para petani sejak tahun 2000 silam. Namun baru menjadi perhatian pemerintah daerah setempat pada 2008. Sejak saat itulah, Kabupaten Tanggamus dijadikan sentra budidaya manggis saburai.Tak sulit membudidayakan manggis jenis ini. Bisa menggunakan benih atau penyetekan. Pada awal penanaman, benih manggis harus disemai di pot. Usahakan tak terkena sinar matahari secara langsung. "Tanaman ini hanya bisa ditanam pada ketinggian tanah 0-800 meter di atas permukaan laut," ujar Joko Prabowo, Kepala Unit Pelaksana Teknis Pertanian Tanggamus.Setelah bibit berusia tiga tahun, penanaman pohon dilakukan dengan jarak antar tanaman 10 meter. Gali lubang sedalam 50 cm lalu dan diamkan selama dua minggu. Selanjutnya masukkan bibit dan tutup dengan tanah yang sudah diberi pupuk organik. Pemberian pupuk tersebut tergantung dengan tingkat kesuburan tanah di sana.Zubaidi, pembudidaya manggis saburai asal Tanggamus bilang, pemupukan kembali dilakukan setelah satu bulan pasca penanaman. Selanjutnya, pemberian pupuk dilakukan enam bulan sekali. "Sebaiknya tanam ketika musim hujan. Sebab bibit usia tiga tahun rentan penyakit," katanya.Jika pohon sudah berbuah, pembudidaya juga harus waspada dengan serangan tupai yang suka memakan buah manggis. "Jelang panen, para petani di Lampung biasanya berjaga-jaga di areal lahan manggis," tutur Zubaidi.Pada awal-awal panen, buah yang dihasilkan setiap pohon manggis tidak terlalu banyak. Pada usia tujuh tahun, satu pohon manggis saburai hanya menghasilkan 30 kilogram buah. Namun, jika pohon sudah berumur di atas 30 tahun, jumlah buah yang dihasilkan lebih dari 1 kuintal sekali panen. Menurutnya, ciri khas manggis saburai yang telah masak bisa dilihat dari perubahan warna, dari hijau menjadi kuning kecokelat-cokelatan. Adapun perbedaan manggis saburai dengan manggis lain, terletak pada diameter manggis saburai yang bisa mencapai 6 centimeter (cm) dan memiliki kulit tebal. Dus, manggis saburai cocok untuk ekspor karena tidak mudah rusak.Makanya, harga bibit berusia tiga tahun cukup mahal, berkisar Rp 10.000-Rp 30.000 per batang dengan tinggi 50 cm - 70 cm. Karena menggiurkan, saat ini sekitar 300 kepala keluarga di Kotaagung, tidak lagi menggantungkan pendapatan dari menanam padi. "Sekarang mereka bisa menjual bibit dan juga buah manggis saburai. Permintaan datang dari Kalimantan dan ekspor," kata Zubaidi. (Selesai)Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News