KONTAN.CO.ID - Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert mengkritik kebijakan Benjamin Netanyahu terhadap Palestina dan menyerukan perubahan kepemimpinan menjelang pemilu Israel 2026. Olmert mendukung Gadi Eisenkot, pemimpin Partai Yashar, yang dinilainya lebih siap memimpin Israel dibandingkan sejumlah tokoh politik lainnya.
Dikutip dari
The Jerusalem Post, Olmert menyampaikan kritik tersebut dalam wawancara dengan
Al-Arabiya English pada Selasa (27/10), menjelang pemilu Israel yang berlangsung hari itu. Olmert menilai Netanyahu berada di “sisi sejarah yang salah” dan menyebut pemilu kali ini berpotensi menjadi salah satu pemilihan paling menentukan dalam sejarah modern Israel. Ia juga menyoroti masa depan demokrasi Israel, posisi Mahkamah Agung, serta arah kebijakan negara tersebut terhadap Palestina dan kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Demi Rakyat Palestina, Pelapor PBB Minta Indonesia Tinggalkan Ide Donald Trump Olmert Salahkan Kebijakan Netanyahu
Olmert menyalahkan Netanyahu atas kebijakan yang diterapkan sebelum serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Menurutnya, Netanyahu memilih membangun pemahaman dengan Hamas dan menolak bernegosiasi atau bekerja sama dengan Otoritas Palestina. Mantan PM Israel itu juga menyerukan agar pemerintah Israel mengambil risiko politik untuk mendorong solusi dua negara bagi konflik Israel-Palestina. Ia menyebut solusi dua negara sebagai pilihan terbaik bagi Israel. Pendekatan tersebut, menurut Olmert, dapat menjadi bagian dari perubahan arah kebijakan yang diperlukan negara itu. Olmert memperingatkan para pemimpin politik dan aparat keamanan Israel mengenai kemungkinan konsekuensi hukum jika mereka tidak menangani kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di Tepi Barat.
Baca Juga: Pemilu Israel Berakhir Ketat, Netanyahu dan Oposisi Sama-Sama Gagal Raih Mayoritas Dukung Eisenkot dalam Pemilu Israel 2026
Saat ini, Olmert secara terbuka mendukung Gadi Eisenkot dan Partai Yashar dalam pemilu Israel 2026. Olmert menilai Eisenkot lebih matang, lebih siap memimpin, dan lebih populer dibandingkan sejumlah tokoh oposisi lainnya, termasuk Naftali Bennett, Yair Lapid, dan Yair Golan.
“Siapa pun yang memilih Bennett, Eisenkot, Lapid, atau Golan, perbedaannya memang tidak kecil. Namun, mereka semua berada di sisi sejarah yang benar, sedangkan Netanyahu berada di sisi sejarah yang salah,” kata Olmert. Ia juga memperkirakan Netanyahu berpotensi kehilangan sepertiga hingga 40% kekuatan politiknya berdasarkan jajak pendapat yang dirujuknya. Menjelang pemilu, Olmert menyerukan perubahan kepemimpinan yang menurutnya dapat membawa dampak positif bagi Israel, rakyat Palestina, kawasan Timur Tengah, dan komunitas Yahudi di seluruh dunia.
Baca Juga: Netanyahu Serukan Pendukungnya Bergerak ke TPS, Partisipasi Pemilih Arab Melonjak