Manufaktur AS Solid, tetapi Permintaan dan Output Mulai Kehilangan Momentum



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Aktivitas manufaktur Amerika Serikat (AS) masih bertahan di level ekspansif di Agustus 2026. Namun, pertumbuhan produksi dan pesanan baru melambat di tengah kenaikan harga serta gangguan pasokan yang masih membayangi sektor industri.

S&P Global mengumumkan, Selasa (1/9/2026), Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur AS di Agustus ada di level 53,9, tidak berubah dibanding Juli. Produksi meningkat untuk bulan ke-15 berturut-turut, meski laju pertumbuhan terus melambat dan menjadi yang terlemah sejak Februari.

Produsen menyebut penambahan persediaan dan pertumbuhan pesanan baru sebagai faktor yang menopang produksi. Pesanan baru juga masih tumbuh dengan laju solid pada Agustus dan relatif tidak berubah dari Juli. Namun, pertumbuhan tersebut terutama berasal dari pasar domestik.


Sementara itu, pesanan ekspor baru kembali turun dan telah mengalami kontraksi selama 14 bulan berturut-turut. Tarif menjadi salah satu faktor yang menekan penjualan ke luar negeri.

Pertumbuhan manufaktur AS dinilasi masih positif. “Tetapi data Agustus menunjukkan adanya beberapa celah dalam kesehatan sektor ini,” kata Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence, dalam rilis pers, Selasa (1/9/2026).

Baca Juga: Manufaktur Spanyol Kembali Tertekan, Harga Energi Kerek Biaya Produksi

Menurut Bhatti, penumpukan persediaan menjadi salah satu faktor penting yang menopang pertumbuhan output dan permintaan manufaktur dalam beberapa bulan terakhir.  Upaya perusahaan mengamankan persediaan masih berlanjut di tengah kekhawatiran kenaikan harga dan gangguan pasokan.

Stok barang jadi meningkat untuk keempat kalinya dalam lima bulan, dengan laju akumulasi paling tajam sejak Mei. Sementara itu, aktivitas pembelian bahan baku meningkat untuk bulan kedelapan berturut-turut, sejalan dengan kebutuhan produksi yang lebih tinggi.

Produsen juga terus meningkatkan persediaan bahan baku sebelum produksi. Namun, laju akumulasinya menjadi yang paling lambat sejak April karena perusahaan masih kesulitan menerima bahan baku akibat kelangkaan material dan harga yang tinggi.

Gangguan tersebut menyebabkan rata-rata waktu pengiriman pemasok kembali memanjang secara signifikan. Pelemahan kinerja pemasok pada Agustus bahkan menjadi salah satu yang terburuk dalam empat tahun terakhir.

 “Meski aktivitas pembelian dan persediaan sebelum produksi kembali meningkat, produsen terus melaporkan kesulitan dalam memperoleh dan menerima bahan baku karena keterlambatan pasokan dan kenaikan harga,” papar Bhatti.

Baca Juga: Aktivitas Manufaktur Italia Kembali Tertekan, PMI Turun ke Zona Kontraksi

Di tengah perlambatan produksi dan pesanan, pasar tenaga kerja manufaktur justru menunjukkan perkembangan positif. Perusahaan manufaktur tercatat masih meningkatkan jumlah pekerja. Laju penciptaan lapangan kerja pada Agustus bahkan menjadi yang terkuat sepanjang 2026.

Penguatan perekrutan tersebut didukung membaiknya optimisme perusahaan terhadap prospek produksi dalam 12 bulan mendatang. Kepercayaan bisnis meningkat dari Juli ke level tertinggi dalam tiga bulan. Perusahaan mengaitkan optimisme tersebut dengan harapan berakhirnya perang di Timur Tengah serta jalur kebijakan domestik yang lebih mulus.

Produsen juga berharap kondisi bisnis yang lebih stabil dapat mendukung rencana ekspansi usaha dan mempertahankan pelanggan. “Ekspektasi bisnis terhadap output setahun ke depan membaik dari Juli ke level tertinggi dalam tiga bulan, sebagian mencerminkan harapan berakhirnya perang dan jalur kebijakan domestik yang lebih mulus,” kata Bhatti.

Salah satu kelemahan utama manufaktur AS tetap berada pada pasar ekspor. Penjualan ke luar negeri telah turun untuk bulan ke-14 berturut-turut.

Kondisi ini membuat pertumbuhan manufaktur AS semakin bergantung pada permintaan domestik. Bersamaan dengan itu, perusahaan masih membangun stok untuk mengantisipasi kenaikan harga dan keterlambatan pasokan.