Manufaktur Asia Tenggara Kembali Menguat, Ditopang Permintaan Domestik



KONTAN.CO.ID - ​HANOI. Aktivitas manufaktur di Asia Tenggara kembali menunjukkan perbaikan pada Mei 2026 setelah sempat melambat selama tiga bulan berturut-turut. Peningkatan permintaan domestik menjadi penopang utama di tengah masih lemahnya kinerja ekspor kawasan.

Data Bloomberg menunjukkan indeks manajer pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) manufaktur Asia Tenggara naik menjadi 51,5 pada Mei, dibandingkan 50,7 pada April. Angka tersebut semakin menjauh dari level 50 yang menjadi batas antara ekspansi dan kontraksi.

Laporan S&P Global yang dirilis Selasa (2/6) mencatat kenaikan pesanan baru mendorong pabrik-pabrik di kawasan meningkatkan volume produksi. Perbaikan permintaan dalam negeri membantu mengimbangi tekanan yang masih membayangi sektor ekspor.


Di antara negara-negara Asia Tenggara, Vietnam mencatat kinerja terbaik dengan PMI sebesar 52,8. Thailand menyusul dengan angka 52,6. Sementara itu, Filipina dan Indonesia juga masih berada di zona ekspansi sepanjang Mei.

Sebaliknya, aktivitas manufaktur di Myanmar dan Malaysia masih mengalami kontraksi. PMI Myanmar tercatat sebesar 49,3, sedangkan Malaysia berada di level 49,9.

Baca Juga: Likuiditas Berlebih, Bank Sentral China Kian Agresif Serap Dana

Meski aktivitas produksi dan pembelian bahan baku meningkat, pelaku usaha masih berhati-hati dalam menambah jumlah pekerja. Kondisi tersebut membuat lapangan kerja di sektor manufaktur kawasan sedikit menyusut pada Mei.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Maryam Baluch, mengatakan ketidakpastian global masih menjadi tantangan bagi prospek manufaktur Asia Tenggara. Menurut dia, gangguan perdagangan internasional yang berlanjut serta tekanan inflasi akibat konflik geopolitik masih berpotensi menahan laju pertumbuhan sektor industri.

Kendati demikian, penguatan permintaan domestik memberikan sinyal positif bahwa aktivitas manufaktur kawasan tetap memiliki daya tahan di tengah berbagai tantangan ekonomi global.

Baca Juga: Trump Longgarkan Tarif Impor Alat Industri dan Pertanian AS