Manufaktur Global Terbelah, Teknologi dan Barang Modal Jadi Motor Pertumbuhan



KONTAN.CO.ID - LONDON. Kinerja manufaktur global semakin terbelah pada September 2026. Negara-negara yang memiliki basis industri teknologi tinggi, semikonduktor, perangkat keras terkait akal imitasi (AI), serta barang modal mencatat ekspansi kuat. Sebaliknya, sejumlah negara yang menghadapi lemahnya permintaan domestik maupun konsumsi justru mengalami tekanan hingga kontraksi.

Ini terlihat dari purchasing managers' index (PMI) sejumlah negara yang diumumkan S&P Global, Kamis (1/10/2026). Taiwan menjadi salah satu titik paling kuat dalam pemulihan manufaktur global. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Taiwan melonjak menjadi 56,7 pada September dari 54,7 pada Agustus. Angka tersebut menunjukkan perbaikan kondisi manufaktur terkuat sejak Juli 2021.

Kinerja Taiwan ditopang kenaikan output, pesanan baru dan pesanan ekspor yang masing-masing tumbuh pada laju tercepat dalam lebih dari lima tahun. Permintaan menguat dari Eropa, China daratan, Amerika Serikat dan Jepang. Permintaan yang berkaitan dengan AI turut menjadi salah satu pendorong utama.


Korea Selatan juga mencatat ekspansi kuat. PMI manufaktur negara tersebut naik dari 52,3 menjadi 53,9, salah satu level tertinggi sejak pertengahan 2021. Pesanan baru meningkat untuk bulan ke-10 berturut-turut dengan laju tercepat sejak Februari 2021, sementara bisnis ekspor tumbuh pada laju tercepat sejak Maret 2011.

Semikonduktor dan otomotif menjadi penopang penting kinerja industri Korea Selatan. Produksi bahkan meningkat pada laju tercepat dalam sekitar lima setengah tahun. Tumpukan pekerjaan atau backlog juga meningkat untuk bulan kesembilan berturut-turut dan mencapai level terkuat sejak Mei 2022.

Baca Juga: China Jadi Pendorong Lonjakan Impor Uni Eropa yang Mengkhawatirkan

"Semikonduktor dan otomotif mendorong permintaan, dengan penjualan ekspor tumbuh pada laju tercepat dalam lebih dari 15 tahun," kata Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence, dalam rilis pers, Kamis (1/10/2026).

Jepang menunjukkan pola serupa, meski lajunya sedikit melambat. PMI manufaktur Jepang berada di 54,1 pada September, turun dari 54,9 pada Agustus. Namun, kinerja kuartal ketiga menjadi yang terbaik sejak kuartal I 2014. Pertumbuhan pesanan ekspor juga mendekati level tertinggi dalam sekitar delapan setengah tahun.

Permintaan terhadap semikonduktor dan teknologi AI menjadi salah satu sumber optimisme industri Jepang. Pertumbuhan tenaga kerja juga tetap kuat, dengan kenaikan lapangan kerja mendekati rekor multi-tahun. Namun, produsen Jepang mulai menghadapi kekurangan komponen elektronik dan teknologi AI serta gangguan pada rantai pasok.

Di Eropa, Belanda dan Jerman menjadi contoh lain dari penguatan sektor industri. PMI Belanda meningkat menjadi 55,6 dari 53,8, sementara PMI Jerman berada di 53,9. Industri Belanda mendapat dorongan dari permintaan terhadap mesin pembuat chip dan komponen elektroteknik, investasi AI serta belanja pertahanan.

Jerman juga mencatat pertumbuhan output dan pesanan baru yang kuat. Pesanan tertunggak meningkat ke level tertinggi sejak April 2022, sementara penurunan tenaga kerja melambat ke level paling rendah dalam tiga tahun. Pembelian input juga meningkat pada laju tercepat sejak Mei 2022.

Baca Juga: AS Minta Jerman dan Prancis Lepas Cadangan Solar, Atau Hadapi Larangan Ekspor

Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence Phil Smith menyebut kinerja industri Jerman tetap kuat meski tekanan biaya energi kembali meningkat. "Harapan terhadap AI dan pemulihan pasar secara umum" turut menjadi faktor yang menopang optimisme perusahaan, sementara meningkatnya backlog memberikan ruang bagi perbaikan produksi.

Perbaikan industri Eropa juga terlihat pada kawasan euro secara keseluruhan. PMI manufaktur zona euro naik menjadi 52,9 pada September dari 52,7 pada Agustus, tertinggi sejak Mei 2022. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari empat tahun, seluruh delapan negara zona euro yang disurvei mencatat ekspansi manufaktur.

Namun, penguatan tersebut tidak terjadi merata. Filipina mengalami perubahan paling tajam, dengan PMI anjlok dari 54,9 menjadi 49,6. Output turun untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, sedangkan pesanan baru dan pesanan ekspor juga merosot. Perusahaan mengurangi tenaga kerja dan pembelian input.

Myanmar juga kembali mengalami kontraksi. PMI manufakturnya turun menjadi 49,1 dari 50,3. Output telah menurun selama enam bulan berturut-turut, sementara pesanan baru turun untuk bulan kelima. Australia mencatat pola serupa, dengan PMI merosot dari 52,0 menjadi 49,6, sekaligus menjadi penurunan paling tajam dalam 21 bulan.

Kontras tersebut menunjukkan bahwa pemulihan manufaktur global pada September belum berbentuk siklus yang merata. Industri yang terkait teknologi, semikonduktor, AI, barang modal dan pertahanan mendapat dukungan permintaan yang lebih kuat, sedangkan sektor yang menghadapi lemahnya konsumsi dan permintaan domestik masih tertahan.

Baca Juga: Toyota Investasi US$1,34 Miliar Bangun Pabrik Kendaraan Listrik di Argentina

Di zona euro, Chief Business Economist S&P Global Market Intelligence Chris Williamson menyebut kenaikan industri terutama didorong barang investasi, dengan produksi barang modal mencapai laju yang tidak terlihat sejak pemulihan pascapandemi sekitar lima tahun lalu. Namun, permintaan barang konsumsi masih menurun karena tekanan biaya hidup.