Manufaktur India: Pemulihan Tersendat, Sentimen Bisnis Anjlok



KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Aktivitas manufaktur India menunjukkan perbaikan terbatas pada Januari 2026 seiring pemulihan permintaan domestik. Namun, penguatan tersebut belum cukup kuat untuk mengerek kepercayaan dunia usaha maupun mendorong peningkatan penyerapan tenaga kerja secara signifikan.

Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) Manufaktur India versi HSBC yang dirilis S&P Global tercatat naik menjadi 55,4 pada Januari, dari posisi terendah dua tahun di level 55,0 pada Desember. Meski membaik, capaian ini masih berada di bawah estimasi awal yang mematok PMI di level 56,8.

Reuters (2/2), PMI manufaktur India sendiri masih konsisten bertahan di atas ambang batas 50,0 yang menandakan ekspansi sejak Juli 2021. Kinerja output pabrik tercatat menguat dibandingkan Desember, ketika laju pertumbuhan sempat melambat ke level terendah dalam 38 bulan.


Dari sisi permintaan, pesanan baru kembali mencatatkan momentum setelah melemah pada bulan sebelumnya. Namun, perbaikan ini belum merata. Permintaan ekspor masih tergolong lemah, dengan pesanan luar negeri hanya meningkat tipis dibandingkan Desember. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pemulihan aktivitas manufaktur India lebih banyak ditopang oleh pasar domestik.

Baca Juga: India Jajaki Integrasi UPI dengan Alipay+ untuk Transaksi Lintas Negara

Sejumlah produsen melaporkan masih menerima pesanan dari berbagai kawasan, mulai dari Asia, Australia, Kanada, Eropa, hingga Timur Tengah. Kendati demikian, kontribusi ekspor dinilai belum cukup kuat untuk menjadi motor utama pertumbuhan.

Di tengah peningkatan aktivitas, pasar tenaga kerja belum menunjukkan penguatan berarti. Perekrutan memang naik ke level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, tetapi tetap terbatas. Perusahaan cenderung berhati-hati dalam menambah tenaga kerja dan lebih memilih menyesuaikan jumlah karyawan dengan kebutuhan operasional yang meningkat.

Tekanan justru terlihat pada sisi sentimen pelaku usaha. Tingkat kepercayaan bisnis turun ke level terendah dalam tiga setengah tahun. Hanya sekitar 15% perusahaan yang disurvei optimistis output akan meningkat dalam satu tahun ke depan, sementara mayoritas memperkirakan kondisi akan stagnan.

Dari sisi biaya, tekanan input mulai meningkat. Harga bahan baku seperti bahan kimia, tembaga, besi, dan baja, serta biaya transportasi dilaporkan naik dengan laju tercepat dalam empat bulan terakhir. Namun, produsen masih kesulitan meneruskan kenaikan biaya tersebut ke konsumen.

Hal ini tercermin dari inflasi harga jual output yang justru turun ke level terendah dalam hampir dua tahun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun permintaan mulai menguat, daya tawar harga produsen manufaktur India masih terbatas.

Baca Juga: Bank Sentral India Diduga Turun Tangan, Rupiah India Tertahan dari Rekor Terendah

Selanjutnya: Kenaikan Upah Inggris, Ancaman Inflasi Kembali Mengintai BoE

Menarik Dibaca: Katalog Promo Indomaret Minyak Goreng Hemat 1-4 Januari 2026, Harumas Rp 29.200

TAG: