Manufaktur Jepang Kehilangan Momentum, Sektor Material Paling Tertekan



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Sentimen dunia usaha di Jepang mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan di awal 2026. Hasil survei terbaru Reuters Tankan mengungkapkan, kepercayaan diri pelaku industri manufaktur turun ke level terendah dalam enam bulan terakhir pada Januari, seiring melemahnya permintaan dari negara-negara ekonomi utama dunia.

Indeks sentimen manufaktur tercatat turun dari +10 pada Desember menjadi +7 pada Januari. Ini menjadi penurunan dua bulan berturut-turut, meski masih berada di zona optimistis. Penurunan ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap sektor industri Jepang kian nyata, terutama bagi sektor-sektor yang sangat bergantung pada bahan baku dan ekspor.

Tekanan paling besar dirasakan oleh sektor industri berbasis material. Industri minyak dan keramik mencatat penurunan sentimen paling tajam hingga jatuh ke level nol. Sementara itu, sentimen industri baja semakin terpuruk ke wilayah negatif yang dalam, disusul oleh sektor kimia yang juga ikut melemah.


Sejumlah pelaku industri menilai, melemahnya permintaan dari pasar ekspor utama menjadi penyebab utama. Salah satu produsen baja menyebutkan, pesanan dari China untuk produk-produk yang terkait dengan industri otomotif terus menurun. Di sisi lain, perlambatan belanja konsumen di Amerika Serikat dan China, serta dampak kebijakan tarif terhadap ekspor, turut memperberat tekanan terhadap kinerja sektor manufaktur.

Baca Juga: Pelaku Usaha Inggris Makin Pesimistis

Di tengah tekanan tersebut, tidak semua sektor industri mengalami pelemahan yang sama. Sektor otomotif dan mesin elektronik hanya mencatat penurunan tipis. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian basis industri Jepang masih cukup bertahan dibandingkan sektor material yang lebih sensitif terhadap siklus ekonomi global.

Dari sisi non-manufaktur, sentimen pelaku usaha juga melemah tipis. Indeks sektor ini turun dari +33 menjadi +32. Pelemahan terutama terjadi di sektor perdagangan grosir dan ritel. Meski demikian, sektor-sektor seperti layanan informasi, transportasi, dan properti justru menunjukkan perbaikan.

Namun, bayang-bayang ketegangan geopolitik mulai ikut mempengaruhi sektor jasa, khususnya pariwisata. Sejumlah pelaku usaha melaporkan penurunan jumlah wisatawan asal China akibat memburuknya hubungan diplomatik. Bahkan, seorang pengelola department store mengaku penjualan kepada turis asing turun tajam. Meski begitu, sebagian pelaku usaha menilai permintaan wisatawan asing secara keseluruhan masih relatif terjaga.

Ke depan, arah pergerakan sentimen diperkirakan akan berbeda antar sektor. Pelaku industri manufaktur memperkirakan sentimen akan membaik menjadi +10 pada April, seiring harapan pemulihan siklus ekonomi global. Sebaliknya, sektor non-manufaktur justru memperkirakan penurunan sentimen ke level +26, yang mencerminkan meningkatnya kehati-hatian di sektor jasa.

Bagi Bank of Japan, kondisi ini mencerminkan situasi ekonomi yang belum sepenuhnya solid. Sektor manufaktur masih berada di zona positif, tetapi momentumnya terus melemah. Sementara itu, sektor-sektor yang bertumpu pada pasar domestik memang masih tertopang, namun kian rentan terhadap guncangan dari perdagangan global dan sektor pariwisata.

Baca Juga: China Larang Penggunaan Perangkat Lunak Keamanan Siber AS dan Israel, Ini Alasannya

Selanjutnya: Wamen ESDM: KPK Minta Standar Produk Impor Energi Pertamina

Menarik Dibaca: 5 Bahaya Bertengkar di Depan Anak, Orang Tua Wajib Tahu Sebelum Terlambat!