KONTAN.CO.ID - Aktivitas manufaktur Jepang menunjukkan tanda stabilisasi pada Desember 2025, setelah tekanan permintaan mereda dibandingkan bulan sebelumnya. Survei sektor swasta menunjukkan, perlambatan ini mengakhiri tren pelemahan yang berlangsung selama lima bulan berturut-turut. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Jepang yang dirilis S&P Global tercatat di level 50,0 pada Desember, naik dari 48,7 pada November.
Baca Juga: Delcy Rodríguez, Pewaris Kekuasaan Venezuela Usai Maduro Ditangkap AS Angka ini berada tepat di ambang batas yang memisahkan ekspansi dan kontraksi aktivitas manufaktur. “Industri manufaktur Jepang menunjukkan kondisi yang mulai stabil di penghujung tahun,” kata Annabel Fiddes, Associate Director Economics di S&P Global Market Intelligence pada Senin (5/1/026). Survei tersebut mencatat penurunan pesanan baru pada Desember merupakan yang paling ringan sejak Mei 2024. Meski sebagian perusahaan masih menghadapi permintaan yang lemah, sejumlah pelaku usaha melaporkan perbaikan penjualan, didukung proyek baru serta belanja pelanggan yang lebih kuat dari perkiraan.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat Senin (5/1) Pagi, Investor Abaikan Dampak Gejolak Venezuela Perbaikan kondisi bisnis terutama terlihat di sektor barang konsumsi dan barang investasi. Namun, produsen barang antara (intermediate goods) masih mencatatkan kinerja yang lemah. Pesanan ekspor baru juga masih menurun, meski dengan laju yang lebih lambat dibandingkan November. Pelemahan permintaan dari kawasan Asia, khususnya sektor semikonduktor, menjadi salah satu faktor penekan ekspor, menurut hasil survei. Untuk 12 bulan ke depan, sentimen bisnis secara keseluruhan sedikit melemah dibandingkan November, namun tetap berada di atas rata-rata jangka panjang. “Peluncuran produk baru serta meningkatnya permintaan dari industri utama seperti otomotif dan semikonduktor diperkirakan akan mendukung kinerja sektor manufaktur pada 2026,” ujar Fiddes. Meski demikian, pelaku usaha masih mewaspadai sejumlah risiko, termasuk perlambatan ekonomi global, populasi yang menua, serta kenaikan biaya produksi.
Baca Juga: Amerika Kian Agresif: Usai Maduro, Trump Bidik Greenland dan Kuba Survei juga menunjukkan tingkat ketenagakerjaan di sektor manufaktur meningkat untuk bulan ke-13 berturut-turut.
Namun, tekanan biaya semakin besar, dengan inflasi harga input mencapai level tertinggi sejak April. Kenaikan biaya bahan baku, tenaga kerja, dan transportasi, ditambah pelemahan yen, menjadi faktor utama. Pada Desember lalu, Bank of Japan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 30 tahun dan memberi sinyal akan melanjutkan pengetatan kebijakan moneter ke depan.