Manufaktur Jerman Menguat pada Juli 2026, Ditopang Lonjakan Ekspor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor manufaktur Jerman mencatat awal yang kuat pada kuartal III-2026. Aktivitas bisnis industri kembali meningkat pada Juli dan mencapai laju ekspansi yang menjadi salah satu yang tertinggi sejak Mei 2022, didorong percepatan pertumbuhan produksi serta pulihnya penjualan ekspor.

Berdasarkan hasil survei yang dirilis S&P Global pada Senin (3/8/2026), Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Jerman naik menjadi 52,2 pada Juli, dibandingkan 50,3 pada Juni. Angka tersebut sesuai dengan estimasi awal yang dirilis sebelumnya dan menyamai level tertinggi yang terakhir kali tercatat pada Maret tahun ini.

Dalam indeks PMI, angka di atas 50 menandakan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi, sedangkan angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi.


Associate Director Economics di S&P Global Market Intelligence, Phil Smith, mengatakan sektor manufaktur Jerman memulai kuartal III dengan performa yang sangat solid.

"Sektor manufaktur Jerman memulai kuartal ketiga dengan sangat impresif. Peningkatan yang signifikan pada penjualan ekspor membantu mendorong pertumbuhan produksi terkuat dalam hampir empat setengah tahun," ujar Smith.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok Lebih dari 5% Setelah Trump Tunda Serangan ke Iran

Produksi manufaktur meningkat pada laju tercepat sejak Februari 2022. Perusahaan-perusahaan melaporkan permintaan yang lebih kuat, tingkat utilisasi kapasitas yang lebih tinggi, serta upaya untuk menyelesaikan tunggakan pesanan sebagai faktor utama yang mendorong kenaikan produksi.

Meski demikian, volume pekerjaan yang belum terselesaikan (outstanding business) masih mengalami penurunan untuk bulan ketiga berturut-turut. Namun, laju penurunannya mulai melambat dibandingkan bulan sebelumnya.

Di sisi permintaan, pesanan baru meningkat untuk bulan kedua secara beruntun dan mencatat pertumbuhan tercepat sejak Maret. Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh penjualan ekspor yang tumbuh pada laju paling kuat sejak Februari 2022.

Sementara itu, tekanan biaya produksi mulai mereda. Inflasi harga bahan baku (input prices) melambat ke level terendah sejak Februari, sedangkan inflasi harga jual produk (output charges) juga melemah untuk bulan ketiga berturut-turut hingga menjadi yang terendah sejak Maret.

Meskipun demikian, baik inflasi biaya input maupun harga jual masih berada pada tingkat yang relatif tinggi dibandingkan standar historis.

Baca Juga: Shell Jual Bisnis Energi Terbarukan di Eropa kepada TotalEnergies, Fokus Migas

Namun, Smith mengingatkan bahwa keberlanjutan pemulihan sektor manufaktur Jerman masih menghadapi tantangan, terutama jika konflik di Timur Tengah belum menemukan penyelesaian.

"Sulit membayangkan kinerja ini dapat bertahan tanpa adanya penyelesaian konflik di Timur Tengah, mengingat volatilitas harga minyak dan ketidakpastian yang ditimbulkannya," kata Smith.

Ia menambahkan bahwa prospek bisnis di sektor manufaktur masih cenderung lemah.

"Ekspektasi dunia usaha di sektor manufaktur masih tertahan dan tetap berada di bawah level yang terlihat sebelum pecahnya konflik tersebut," tutup Smith.