Margalarva mengambil untung dari larva lalat hitam



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lalat bagi sebagian orang adalah serangga yang jorok dan menjijikan. Tapi bagi Rendria Labde, ada satu lalat yang bisa menyelesaikan persoalan sampah organik. Kemampuan lalat itu sekaligus menjadi potensi bisnis. Namanya hermetia illucens atau yang dikenal dengan nama black soldier fly (BSF).

Jenis lalat tersebut, ia bisa membantu mengatasi persoalan sampah organik karena makanan dan sumber kehidupan dari BSF adalah sampah organik. Nah, anakan lalat tersebut yakni larva ternyata bisa menjadi bahan baku pakan ternak. Apalagi kandungan protein di larva BSF tidak kalah dengan protein tepung ikan yang kerap menjadi bahan baku pakan ternak.

Untuk itulah sejak 2017 silam, Rendria mendirikan start up bernama Magalarva, yakni aplikasi penyedia pakan ternak berbahan baku larva BSF. "Kualitas sebanding dengan pakan ternak yang lainnya," katanya .


Untuk bisa menghasilkan larva BSF, ia akan memberi pakan sampah organik kepada bibit BSF selama satu hingga dua minggu. Di periode itu, bibit BSF akan berubah menjadi larva BSF.

Dari larva tersebut, ia menyiapkan tiga jenis pakan ternak. Pertama larva hidup bagi pakan ikan terutama jenis arwana, reptil, hingga burung. Kedua, larva kering dan yang ketiga adalah maggot meal atau tepung protein dari tumbukan protein BSF kering. Selain itu, Magalarva juga mempunyai pupuk organik dari feses larva BSF.

Saban hari, ia bisa memproduksi protein kering hingga Rp 500 kg dan 200 kg pupuk organik. Untuk bisa mencapai hasil tersebut, ia butuh tiga ton sampah organik berupa sisa makanan, buah-buahan dan sayur dari mitra.

Dari jumlah produksi itu, ia baru bisa menjual 300 kg per hari dan sudah mengantongi omzet yang lumayan per bulannya. Sisa produksi ia pakai untuk meneliti lebih lanjut upaya menggenjot kapasitas produksi larva BSF untuk bisa menekan harga jual yang saat ini dua kali lipat dari harga pakan ternak yang lain. Kalau ini tercapai, ia targetkan omzet bisa melonjak lebih besar lagi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Markus Sumartomjon